Kabupaten Nganjuk memiliki kebun melon hidroponik terbesar di Desa Kemlokolegi, Kecamatan Baron. Tidak tanggung-tanggung, luas dari kebun itu mencapai 1,5 hektare. Pemiliknya adalah Marmi. Sekali panen, Marmi mampu mendapatkan keuntungan puluhan juta.
Tidak ada yang menduga jika salah satu gang di Desa Kemlokolegi, Kecamatan Baron itu ada kebun melon hidroponik. Karena dari jalan raya, lokasi tersebut tidak terlihat. Untuk masuk area perkebunan, orang-orang harus melewati gang yang lebarnya kurang dari tiga meter.
Namun setelah masuk, semua orang kaget. Karena ada sebuah kebun melon hidroponik yang sangat luas. Bahkan total luas dari area perkebunan tersebut mencapai 1,5 hektare.
Uniknya area perkebunan melon hidroponik itu baru saja berdiri. Kurang dari dua tahun yang lalu. Adalah Marmi, 48, pemilik dari kebun melon hidroponik tersebut.
“Kebunnya ini baru saja buat. Baru sekitar satu hingga dua tahun yang lalu,” ujar perempuan yang ditemui di kebunnya itu.
Marmi lalu mencoba menceritakan awal mula dirinya membuat bisnis melon hidroponik. Kala itu, di masa pandemi, dirinya sering menghabiskan waktu untuk menonton televisi. Saat itu dirinya melihat seorang pebisnis melon hidroponik.
Bermula dari situ Marmi mulai tertarik. Dia lalu mencoba menghitung modal yang harus dikeluarkan. Selain itu Marmi juga memastikan apakah bisnis melon hidroponik menguntungkan. Setelah dihitung-hitung, Marmi lalu mendapat kesimpulan kalau bisnis tersebut akan sangat menguntungkan.
“Dulu kebunnya hanya satu dua, tiap ada untung langsung diputar buat sewa tanah di sekitar,” tambahnya.
Tak disangka bisnisnya itu berkembang pesat. Dalam hitungan satu hingga dua tahun saja, Marmi bisa mengembangkan bisnisnya. Hingga kini dirinya bisa memiliki kebun melon hidroponik dengan luas 1,5 hektare. Meski demikian, Marmi mengaku belum puas. Dirinya masih ingin terus mengembangkan bisnis miliknya.
Lalu berapa keuntungan didapat Marmi untuk sekali panen? Menanggapi pertanyaan itu, Marmi tak mau menyebut secara pasti. Namun menurutnya, untung yang didapat dalam sekali panen bisa mencapai puluhan juta. Sedangkan dalam satu tahun, Marmi dapat panen hingga lima kali!
“Karena melon hidroponik sekarang sedang jadi tren, banyak peminatnya,” tandasnya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Nganjuk Itsna Shofiani mengaku bangga dengan adanya kebun melon hidroponik yang berkembang di Kabupaten Nganjuk. Bahkan diketahui, kebun tersebut menjadi salah satu yang terbesar di Jawa Timur atau bahkan di Indonesia.
Pihak dinas pun terus mendorong agar bisnis yang dimiliki Marmi dapat terus berkembang. Dengan targetnya tidak hanya memenuhi pasar nasional, namun hingga internasional.
“Semoga usaha melon hidroponik berkembang hingga dapat membuat Kabupaten Nganjuk terkenal,” harapnya.
Pasang Target Jadi Petani Pengekspor
“Target itu harus besar,” ujar Marmi, 48, pemilik kebun melon hidroponik di Desa Kemlokolegi, Kecamatan Baron.
Kalimat itu dikatakan oleh Marmi saat menjelaskan cita-citanya di beberapa tahun mendatang. Marmi tidak hanya ingin menembus pasar nasional. Namun hingga ke pasar internasional.
Hal itu pun sepertinya dapat tercapai untuk beberapa tahun mendatang. Bagaimana tidak, untuk saat ini saja, Marmi sudah memasarkan melon miliknya ke tingkat nasional. Setiap kali panen, melon-melon miliknya akan dikirim ke Jakarta.
“Untuk grade A dan B langsung kirim ke Jakarta, kalau yang C hanya dikirim ke lokalan sini saja,” tambahnya.
Untuk memastikan cita-citanya dapat terwujud, banyak cara yang dilakukan oleh Marmi. Salah satunya adalah mengurus izin hingga ke Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia. Pekan lalu, pihak kementan telah mendatangi kebun Marmi. Hal itu untuk melihat standar yang diterapkan pada kebun miliknya. Kalau terbukti memiliki standar tinggi, melon-melon milik Marmi dapat dikirim ke luar negeri.
Sedangkan dari pemeriksaan awal, masih ada beberapa hal yang harus diperbaiki. Salah satunya adalah kebun hidroponik yang rangkanya tidak boleh menggunakan kayu atau bambu. Apesnya masih banyak kebun hidroponik milik Marmi yang menggunakan bambu.
Saat ini fokus Marmi adalah mengganti bambu dan kayu di kebun miliknya. Dalam waktu dekat kayu-kayu tersebut akan segera diganti. Dengan itu proses ekspor melon yang dicita-citakannya dapat terwujud. “Semoga dapat merambah ke pasar internasional,” harapnya.
Hanya Membutuhkan Waktu Dua Bulan
ADA keistimewaan dari melon hidroponik. Salah satunya adalah masa tanam yang sangat pendek. Bahkan beberapa jenis varietas melon hidroponik dapat dipanen tiap dua bulan sekali.
“Melon hidroponik itu sangat cepat masa tanam hingga panennya,” terang Aditya Eka Prasetya, 24, salah satu pekerja di kebun hidroponik milik Marmi di Desa Kemlokolegi, Kecamatan Baron.
Pria yang akrab disapa Adit itu menjelaskan, penanaman melon dimulai dengan penyemaian. Biji melon akan ditaruh di media untuk menyemai. Setelah tiga hingga lima hari, biji melon tersebut akan mengeluarkan daun. Setelah mengeluarkan daun, tanaman melon tersebut dapat dipindah ke media hidroponik.
Melon akan mengalami masa vegetatif selama sekitar 20 hari. Setelah itu melon akan memasuki masa generatif atau masa berbuah. Agar melon dapat berbuah, Adit dan pekerja lainnya harus mengawinkan bunga melon secara manual. Kegiatan itu biasanya dilakukan pada hari atau sore hari.
“Karena kebunnya hidroponik maka harus dikawinkan manual, karena tidak ada serangga,” tambahnya.
Lebih lanjut, Adit mengatakan, masa tanam tiap jenis melon dapat berbeda-beda. Seperti jenis Sweet Net dan Inthanon yang dapat panen setelah dua bulan masa tanam. Lalu, melon Sagoni yang dapat panen setelah dua setengah bulan.
Selain masa tanam yang singkat, melon hidroponik juga memiliki keistimewaan lainnya. Yaitu tanaman yang susah diserang oleh hama. Hal itu yang membuat biaya perawatan melon dapat lebih murah.
Namun penanaman melon hidroponik juga memiliki syarat. Salah satunya adalah lokasinya harus terjangkau sinar matahari dari pagi hingga sore. Karena untuk mendapat kualitas yang bagus, melon harus tersinari matahari selama 12 jam.
“Kalau hitung-hitungan tetap lebih menguntungkan melon hidroponik dibanding melon lokal,” tandasnya. (wib/tyo).