Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Ekonomi & Bisnis Lifestyle Seni & Budaya Opini Khazanah Video

Mengenal Sulianto, Pengrajin Wayang Timplong Asal Nganjuk, Awal Hanya Punya Modal Rp 1.500

Redaksi Radar Nganjuk • Senin, 16 Desember 2024 | 18:05 WIB
Photo
Photo

NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Kabupaten Nganjuk memiliki seniman yang masih melestarisan Wayang Timplong. Dia adalah Sulianto, pengrajin wayang asal Desa Sambirejo, Kecamatan Tanjunganom. Hasil karyanya bahkan sudah dikenal hingga di seluruh penjuru Indonesia.

 

“Krekkk…krekkk…krekkk…,”. Terdengar suara kayu yang sedang dipahat dengan menggunakan alat dari besi. Suara itu sayup-sayup terdengar di tengah suara gerimis yang sedang mengguyur Desa Sambirejo, Kecamatan Tanjunganom sore kemarin.

 

Suara tersebut datang dari rumah Sulianto, 59, seorang pengrajin wayang timplong. Ya, Sulianto adalah seorang pengrajin wayang khas Kabupaten Nganjuk itu. Sore kemarin, dia sedang mengerjakan pesanan dari seorang pelanggan.

 

“Ini lagi buat wayang Janaka,” ujarnya lirih.

 

Sehari-hari Sulianto bekerja sebagai seorang pengrajin wayang. Pekerjaan itu diketahui sudah dilakukan sejak puluhan tahun lalu. Bahkan jika tidak salah mengingat, pekerjaan itu sudah digelutinya sejak berusia 19 tahun.

 

Kala itu, Sulianto memilih untuk menikah di usia muda. Apesnya, saat itu, Sulianto tidak memiliki pekerjaan tetap. Setelah lelah mencari kerja, dia diminta untuk meneruskan usaha sang ayah yaitu menjadi pengrajin wayang. Sulianto yang terpaksa lalu menuruti permintaan sang ayah.

 

Masalah lalu muncul. Sulianto tidak memiliki modal banyak. Bahkan saat itu, Sulianto hanya memiliki modal Rp 1.500. Namun hal itu tak membuatnya menyerah. Dibantu oleh sang ayah, Sulianto mulai membuat wayang tinplong.

 

Nyaris setiap hari Sulianto belajar membuat wayang. Ilmu-ilmu tersebut didapat langsung dari sang ayah. Karena memang, selain menjadi pengrajin, ayah dari Sulianto juga seorang dalam wayang timplong terkenal di Kabupaten Nganjuk.

 

 Tak disangka wayang buatannya bagus. Langsung diminati oleh banyak orang. Bahkan karya pertamanya dihargai Rp 15 ribu. Bagi Sulianto, jumlah itu sangatlah banyak. Terlebih melihat modalnya yang hanya Rp 1.500 saja.

 

“Dulu kaget, uang Rp 1.500 bisa jadi Rp 15 ribu. Akhirnya keterusan dari situ,” tambahnya.

Selama puluhan tahun kemudian, Sulianto masih menjadi pengrajin wayang. Namun kini wayang-wayangnya tidak lagi dihargai Rp 15 ribu. Nilai wayangnya sudah berkali-kali lipat. Bahkan untuk wayang paling murah harganya Rp 1 juta. Sedangkan yang paling mahal yaitu Rp 3 juta. (wib)

Editor : Redaksi Radar Nganjuk