Berita Seputar Nganjuk Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya

Melihat Tren Bisnis Kopi di Nganjuk, Dari di Pinggir Sawah hingga ke Cafe Mewah

Novanda Nirwana • Minggu, 2 Maret 2025 - 23:50 WIB
Kopi menjadi salah satu minuman paling familiar di Kabupaten Nganjuk. Nyaris semua masyarakat pernah merasakannya.
Kopi menjadi salah satu minuman paling familiar di Kabupaten Nganjuk. Nyaris semua masyarakat pernah merasakannya.

Kopi menjadi salah satu minuman paling familiar di Kabupaten Nganjuk. Nyaris semua masyarakat pernah merasakannya.

Beruntung akses untuk membeli kopi sangat mudah. Dari yang berada di pinggir sawah hingga ke cafe mewah.

 BISNIS kopi mungkin sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Namun beberapa tahun terakhir, bisnis kopi mengalami banyak sekali perubahan.

Tidak hanya tentang menjual kopi. Namun juga tentang menjual experience atau pengalaman konsumen saat meminum kopi.

Hal itu yang dilakukan oleh Dwi Prasetyo Aji, 26, salah satu penjual kopi di Desa Sidoharjo, Kecamatan Sawahan. Dia menjual kopi dengan cara yang berbeda. Yaitu berjualan di tepi sawah.

“Idenya ini muncul dari melihat tempat ngopi di Malang,” ujarnya kepada wartawan koran ini.

 Modal untuk berjualan juga sangat minim. Hanya bermodalkan sepeda motor Honda GL dan alat penyeduh kopi.

Kendati demikian, jumlah pelanggan yang datang bisa mencapai ratusan!

 Setidaknya Dwi sudah berjualan selama tiga tahun. Bahkan kini cara tersebut sudah menjadi tren di Kota Angin.

Banyak penjual kopi lain yang menirukan gaya berjualan di tepi sawahnya itu.

“Dulu banyak yang niruin, terus pada hilang semua sekarang, soalnya ini kan tantangannya sama cuaca juga,” paparnya.

Selain bisnis kopi di pinggir sawah yang menyajikan pemandangan yang bagus, ada juga bisnis kopi yang menawarkan kepraktisan. Yakni bisnis kopi gerobak.

Kopi gerobak saat ini sedang naik daun, khususnya di Kecamatan Nganjuk.Salah satu penjual kopi gerobak, Refasa Rahardian Elsatria, 17.

Siswa kelas 2 SMK ini mengaku baru 6 bulan menjajaki bisnis tersebut. Bisnis itupun bukan miliknya. Melainkan ia hanya membantu menjualkan.

“Jam 4 baru buka sampai jam sembilan malam,” kata Satria, sapaan akrabnya.

Jika biasanya kafe menjadi tempat pilihan untuk nongkrong dan menikmati kopi, kini orang-orang bisa lebih mudah membeli kopi dari gerobak keliling.

Setiap harinya, ia lebih memilih mangkal di area Alun-Alun Nganjuk lantaran lebih ramai lalu Lalang.

“Biasanya orang-orang yang pulang kerja mampir beli,” ujarnya.

Bisnis kopi yang tidak memiliki kedai saat ini memang sedang naik daun. Namun, ada juga beberapa bisnis kopi yang sudah ada dari dulu.

Salah satunya Kopi Soe. Saat ini Kopi Soe sedang memasuki rebranding dengan berganti nama menjadi Riang Jenaka.

Owner Riang Jenaka, drg.Ronny INK, M.M menjelaskan, awal mula dia membuka bisnis kopi saat sedang tren sekitar tahun 2020.

Setelah mengetahui tren bisnis kopi, dia juga melihat peluang di Kota Angin. Hingga pada akhirnya dia buka kedai kopi dijalan Ahmad Yani.

“Karena kopi kekinian ini ada masanya, makanya setelah ini kami bikin brand kopi baru lagi,” ujarnya. (nov/wib)

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#kopi #cafe #tren #Pinggir sawah #ngopi