NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Jasa penukaran uang baru di jalan marak jelang Hari Raya Idul Fitri. Dari pantauan wartawan koran ini, mayoritas jasa penukaran uang baru itu bisa ditemukan di Kecamaan Nganjuk, Tanjunganom, dan Kertosono.
Namun dari ketiga kecamatan itu, Kecamatan Nganjuk menjadi yang paling banyak ditemukan jasa penukaran uang baru.
Mereka berkumpul di sekitar Alun-Alun Nganjuk. Seperti kemarin (23/3), ada sekitar 10 orang yang membuka jasa penukaran uang baru.
Mereka berjualan dengan membawa meja kecil untuk tempat uang. Serta, tulisan “Penukaran Uang Baru”.
“Kalau di Nganjuk mulai ramai sejak H-10 Lebaran. Nanti makin ramai lagi kalau H-7 Lebaran,” ujar Murtini, 48, salah satu pelanggan uang baru asal Kelurahan Kauman, Kecamatan Nganjuk
Pecahan uang yang bisa ditukarkan juga bervariasi.
Mulai dari Rp 1.000, Rp 2 ribu, Rp 5 ribu, Rp 10 ribu, hingga Rp 20 ribu. Tentu ada biaya yang dikenakan setiap penukaran uang. Setiap Rp 100 ribu, ada nomimal yang harus dibayarkan.
Mulai dari Rp 15 ribu hingga Rp 25 ribu. “Saya selalu beli pecahan Rp 2 ribu buat anak-anak kecil yang ke rumah,” tambahnya.
Terpisah, Lusiana, 32, warga Kelurahan Ploso, Kecamatan Nganjuk mengatakan, sering menggunakan jasa penukaran uang baru di tepi jalan. Menurutnya penukaran di tepi jalan lebih praktis dibanding dengan di bank.
“Kalau di tepi jalan seperti ini pasti ada,” ujarnya. Lalu bagaimana dengan risiko uang palsu? Menanggapi pertanyaan itu, Lusiana mengatakan sudah memiliki langganan.
Sejak beberapa tahun terakhir dia selalu menukarkan di orang yang sama. “Saya percaya saja. Toh dari dulu dapatnya juga selalu asli,” tambahnya.
Sementara itu, Kasihumas Polres Nganjuk AKP Supriyanto mengimbau masyarakat untuk berhati-hati saat membeli uang baru.
Salah satunya tentang kepastian apakah uang tersebut asli atau tidak. “Harus berhati-hati saat menukar uang baru,” ujarnya. (wib/tyo)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira