-
Mengenal Hadis Nur Wahid dan Titania Wilis Santy, Pasutri Seniman Kabupaten Nganjuk
Sore itu Desa Ngliman, di Kecamatan Sawahan terasa hening. Tidak banyak kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat.
Mereka yang baru saja pulang dari area persawahan memilih untuk beristirahat.
Namun keheningan itu tiba-tiba saja pecah. Terdengar alunan musik jawa secara samar-samar.
Baca Juga: Pasutri Seniman Nganjuk, Suami Tangani Musik dan Istri Fokus Koreografi
Ternyata suara tersebut terdengar dari sanggar tari bernama Cakra Wilis.
Sebuah sanggar tari yang usianya genap satu tahun di bulan ini.
Meski baru berdiri, sanggar tersebut sudah memiliki banyak penari. Total ada 115 penari yang berlatih di sanggar tersebut.
Namun bukan hal itu yang membuat sanggar tari itu spesial.
Baca Juga: Melihat Tren Fotografer di Alun-Alun Nganjuk, Jl A. Yani jadi Jujugan Wisatawan
Melainkan dua pelatihnya. Mereka adalah pasangan suami istri (pasutri) bernama Hadis Nur Wahid dan Titania Wilis Santy.
“Saya bersama suami sudah mendirikan sanggar ini sejak satu tahun lalu,” ujar Titania kepada wartawan koran ini.
Uniknya, berdirinya sanggar itu mungkin karena tidak sengaja.
Dulu, di tahun 2022, Hadis dan Titania berada di proyek yang sama di kuliah.
Baca Juga: 7 Rutinitas Minggu Pagi Bersama Keluarga untuk Momen Berkualitas
Keduanya kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Hadis di Seni Dalang, Sedangkan, Titania di Seni Tari.
Proyek itu berjalan lancar. Singkat cerita, Hadis dan Titania berpacaran dan menikah.
Keduanya lalu memutuskan untuk pulang ke Kecamatan Sawahan.
“Suami saya aslinya Trenggalek, tapi tetap memilih tinggal di Sawahan,” tambahnya.
Baca Juga: Viral! Truk Pengangkut Sampah Sudah Tak Layak, Sampah yang Diangkut Berceceran Jalanan
Saat di Sawahan, Titania memiliki ide. Yaitu, mendirikan sanggar tari. Tentu hal itu disetujui oleh sang suami.
Mereka lalu mulai membuat sanggar tari. Beberapa minggu awal tentu menjadi waktu yang paling sulit.
Penari yang datang bisa dihitung dengan jari. Namun hal itu tidak berjalan lama.
Baca Juga: Terong Lalap, Si Sederhana yang Kaya Manfaat bagi Kesehatan
Karena setelahnya, jumlah penari di sanggar itu terus bertambah.
Bahkan di usia yang baru genap satu tahun, sanggar itu sudah memiliki 115 penari.
“Mayoritas berasal dari Kecamatan Sawahan. Mungkin hanya satu atau dua yang dari luar kecamatan,” tandas perempuan yang kini berusia 25 tahun itu. (wib/tyo)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira