GKJW Aditoya di Kecamatan Pace menjadi gereja tertua di Kabupaten Nganjuk. Setiap April, mereka merayakan rangkaian Hari Paskah dengan meriah.
Hal itu juga yang dilakukan di tahun ini. Mulai dari teatrikal penyaliban Tuhan Yesus hingga lomba mencari telur.
“Salibkan dia…salibkan dia…salibkan dia…,” teriak seseorang dengan seragam lengkap Kerajaan Romawi.
Sembari berteriak, pria tersebut membawa cambuk yang panjangnya nyaris dua meter.
Cambuk itu dipukulkan ke seseorang pria berambut panjang yang sedang memikul kayu yang dibentuk seperti salib.
Di belakangnya tampak dua pria yang juga sedang memikul salib. Ketiganya berjalan memasuki Gereja GKJW Aditoya yang berada di Kecamatan Pace.
Teatrikal penyaliban Tuhan Yesus itu langsung mengambil perhatian puluhan jemaat dalam Ibadah Jumat Agung kemarin (18/4).
“Teatrikal penyaliban Tuhan Yesus menjadi hal yang wajib dilakukan di gereja ini,” terang Pendeta GKJW Aditoya Wawuk Kristian Wijaya kepada wartawan koran ini.
Pria yang akrab disapa Wijaya itu mengatakan, teatrikal itu menjadi hal wajib dilakukan dalam perayaan Paskah.
Tujuannya adalah untuk mengingatkan kepada jemaat tentang peristiwa penyaliban Tuhan Yesus. Terlebih kepada anak-anak yang masih awam membaca Alkitab.
“Kalau orang tua bisa memahami lewat baca Alkitab. Tapi kalau anak-anak kan masih awam membaca. Jadi kami tampilkan melalui teatrikal,” tambahnya.
Umumnya persiapan teatrikal dilakukan dua minggu sebelum Jumat Agung. Adalah pemuda di gereja itu yang menyusun rangkaian teatrikal.
Mulai dari naskah, koreo, hingga pakaian yang akan digunakan.
Namun uniknya, teatrikal tersebut dilakukan dengan mencampurkan sedikit budaya lokal.
Seperti pakaian tokoh Alkitab yang memakai baju lurik hingga salib yang menggunakan pohon bambu.
“Kami mencampurkan budaya lokal di dalam teatrikal tersebut,” imbuhnya.
Sementara itu, Angga, pemeran Tuhan Yesus dalam teatrikal itu mengatakan, kegiatan tersebut disusun oleh pemuda di gereja tersebut.
Persiapannya sekitar dua minggu sebelum paskah.
“Nanti latihannya mendekati hari H,” ujarnya.
Tidak ada yang sulit dalam menghafal gerakan di dalam teatrikal.
Karena bagi Angga, peristiwa penyaliban Tuhan Yesus sudah sering dia lihat sedari kecil.
“Tidak ada yang susah karena sering melihat teatrikal di gereja sejak kecil,” ujarnya. (wib/tyo)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira