Nganjuk, JP Radar Nganjuk - Pasca Lebaran Idulfitri 1446 H pada 1–2 April 2025, peternak ayam di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, menghadapi krisis berat.
Harga daging ayam di tingkat peternak anjlok drastis, jauh di bawah biaya produksi, mengancam keberlangsungan usaha mereka.
Hingga akhir April 2025, kondisi ini memperburuk ekonomi peternak mandiri yang menjadi tulang punggung banyak keluarga di wilayah ini.
Harga ayam hidup di Nganjuk per 20 April 2025 berkisar antara Rp14.300 hingga Rp14.500 per kilogram, sementara biaya produksi mencapai Rp20.500–Rp21.500 per kilogram, menyebabkan kerugian Rp5.000–Rp7.000 per kilogram.
“Kami tidak tahu cara bertahan. Pakan mahal, harga jual jatuh, ini seperti menunggu bangkrut,” keluh Suryono, peternak dari Kecamatan Bagor.
Pasca-Lebaran, permintaan daging ayam menurun tajam setelah lonjakan konsumsi hari raya, sementara pasokan tetap tinggi.
Unggahan di X menyebut kelebihan pasokan nasional mencapai 9,6 juta kg per minggu, menekan harga ayam hingga Rp11.500/kg di beberapa daerah. Di Nganjuk, harga sedikit lebih tinggi tetapi tetap tidak menutup biaya produksi.
Lesunya ekonomi, dengan perputaran uang Ramadan dan Lebaran 2025 turun 16,5% dari 2024, serta indeks keyakinan konsumen yang melemah ke 126,4 pada Februari 2025, semakin memperparah situasi.
Anjloknya harga ayam dipicu oleh kelebihan pasokan akibat produksi tinggi menjelang Lebaran yang tidak terserap pasar pasca-hari raya.
Harga pakan jagung yang melonjak hingga Rp7.000–Rp9.500 per kilogram, dan persaingan ketat dengan integrator besar yang menjual ayam lebih murah, menggerus pasar tradisional peternak mandiri.
Peternak Nganjuk mendesak pemerintah untuk menyerap stok melalui BUMN pangan, memberikan subsidi pakan, mengatur produksi ayam guna mencegah oversupply, dan membatasi penjualan ayam integrator di pasar tradisional agar peternak lokal dapat bersaing.
Beberapa peternak mencoba beralih ke ayam kampung unggul balitbangtan (KUB), yang lebih hemat biaya dan tahan penyakit, tetapi program ini masih terbatas. “Kami coba KUB, tapi butuh waktu dan modal,” ujar Suryono.
Jika krisis berlanjut, banyak peternak terancam menutup kandang, mengganggu pasokan daging ayam di Jawa Timur. Pemerintah perlu bertindak cepat untuk menyelamatkan peternak mandiri dan menjaga stabilitas pangan nasional.
Editor : Elna Malika