Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Ekonomi & Bisnis Lifestyle Seni & Budaya Opini Khazanah Video

Peternak Nganjuk Keluhkan Harga Jual Ayam ke Pedagang Tak Tutup Biaya Produksi

Elna Malika • Jumat, 25 April 2025 | 19:10 WIB
 
Peternak Nganjuk Keluhkan Harga Jual Ayam ke Pedagang Tak Tutup Biaya Produksi
Peternak Nganjuk Keluhkan Harga Jual Ayam ke Pedagang Tak Tutup Biaya Produksi
 
Nganjuk, JP Radar Nganjuk - Peternak ayam di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, tengah dirundung kekecewaan akibat harga jual ayam hidup (livebird) yang terus merosot hingga berada di bawah biaya pokok produksi (HPP).
 
Situasi ini telah mendorong banyak peternak, khususnya yang beroperasi secara mandiri, ke jurang kerugian yang semakin dalam.
 
Berdasarkan laporan terkini, harga ayam hidup di tingkat peternak di Nganjuk bahkan tidak mampu menutupi biaya pakan, obat-obatan, dan operasional kandang, yang terus meningkat seiring waktu.
 
Menurut peternak lokal, harga beli ayam oleh pedagang di pasar tradisional, seperti Pasar Wage Nganjuk, sering kali jauh lebih rendah dibandingkan biaya produksi yang rata-rata berkisar antara Rp20.000 hingga Rp22.000 per kilogram untuk ayam hidup.
 
 
Namun, pedagang hanya bersedia membeli dengan harga sekitar Rp15.000 hingga Rp18.000 per kilogram, tergantung pada kondisi pasar.
 
“Kami sudah berusaha menekan biaya, tapi harga pakan yang tinggi dan serapan pedagang yang menurun membuat kami sulit bertahan,” ungkap seorang peternak di Kecamatan Bagor, Nganjuk.
 
Penyebab utama anjloknya harga ayam di Nganjuk adalah kelebihan pasokan ayam broiler di pasar, yang dipicu oleh produksi berlebih dari peternakan besar dan kurangnya pengendalian distribusi.
 
Selain itu, tingginya harga pakan ternak, yang mencapai 60-70% dari total biaya produksi, semakin memperberat beban peternak.
 
“Pakan naik terus, tapi harga ayam malah turun. Bagaimana kami bisa untung?” keluh peternak lain di Kecamatan Nganjuk.
 
 
Kondisi ini juga diperparah oleh minimnya intervensi pemerintah dalam mengatur harga acuan yang sesuai dengan Peraturan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Nomor 6 Tahun 2024.
 
Peternak mengeluhkan bahwa meskipun Kementerian Pertanian (Kementan) telah berupaya menstabilkan harga melalui pengendalian produksi anak ayam (DOC) dan afkir dini indukan, dampaknya belum terasa di lapangan.
 
“Kami dengar ada rapat dengan Kementan dan Bapanas, tapi sampai sekarang harga masih begini. Kami butuh solusi nyata,” tegas seorang anggota komunitas peternak lokal.
 
Selain itu, peternak juga menghadapi persaingan ketat dengan perusahaan integrator besar yang memiliki kendali atas rantai pasok, mulai dari pembibitan hingga pakan.
 
Hal ini membuat peternak mandiri sulit bersaing, terutama ketika pedagang lebih memilih ayam dari integrator yang sering kali ditawarkan dengan harga lebih rendah.
 
 
Akibatnya, serapan ayam dari peternak kecil semakin menurun, sebagaimana diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Sugeng Wahyudi, bahwa “penurunan serapan sudah terlihat dari makin berkurangnya pedagang yang mengambil hasil peternak ke kandang”.
 
Para peternak di Nganjuk mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret, seperti menegakkan harga acuan yang adil, memberikan insentif harga pakan bagi peternak mandiri, dan mengatur produksi ayam untuk mencegah kelebihan pasokan.
 
Beberapa juga berharap Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor pangan dapat membantu menyerap kelebihan stok ayam untuk program sosial, seperti bantuan pangan atau program stunting, sebagaimana disebutkan oleh GOPAN bahwa “program stunting dari Bapanas sudah cukup membantu mengalirkan hasil produksi ayam peternak”.
 
 
Tanpa solusi cepat, banyak peternak khawatir usaha mereka akan gulung tikar, mengancam keberlangsungan industri perunggasan lokal di Nganjuk.
 
“Kami bukan cuma soal rugi, tapi soal bertahan hidup. Kalau begini terus, kami terpaksa tutup kandang,” ujar seorang peternak dengan nada putus asa.
 
Pemerintah, baik di tingkat lokal maupun nasional, perlu segera bertindak untuk melindungi peternak kecil dari fluktuasi pasar yang kian tak terkendali, demi menjaga ketahanan pangan dan kesejahteraan peternak di Indonesia.
Editor : Elna Malika
#biaya produksi #berita nganjuk hari ini #harga jual ayam #nganjuk #radar nganjuk #peternak ayam #pedagang ayam