ANIS Hanifah sudah menjadi bidan selama 34 tahun. Selama itu, tentu banyak pahit manis kejadian yang dialaminya. Salah satunya adalah ketika Anis pertama kali menjadi bidan.
Di awal karirnya, Anis ditunjuk menjadi bidan desa. Tugas dan tantangannya pun cukup beragam.
Anis harus bisa menghadapi masyarakat yang beragam, bukan hanya kesehatan tetapi juga masalah kemasyarakatan. Bahkan dia juga harus terjun ke Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) hingga pengajian.
“Bagaimana mengalihkan yang mindsetnya dulu persalinan dengan dukun sekarang ke bidan. Semua yang saya laksanakan itu tidak sia-sia, membuahkan hasil karena saya bisa dekat dengan pasien,” ungkapnya.
Menurut Anis, bidan jaman dahulu dengan sekarang cukup berbeda. Dahulu, ketika menjadi bidan desa harus bisa menolong persalinan secara mandiri.
Alasannya karena medan yang cukup sulit. Terlebih ketika harus merujuk pasien.
“Kalau sekarang kan enak, sudah ada tim saat melaksanakan pertolongan persalinan dan harus dilaksanakan di faskes dasar,” jelas Anis.
Menurut Anis, tantangan bidan saat ini adalah praktik pertolongan persalinan.
Meski sudah berlaku di Permenkes (Peraturan Menteri Kesehatan), namun bidan pun sudah sekolah profesi, sudah kompeten, mungkin bisa memenuhi apa yang di persyaratkan tetapi sampai saat ini masih menemui kendala tersebut.
“Jadi nanti menjadi tugas bersama-sama bersanding dengan dinas terkait juga pemerintah daerah untuk kedepannya supaya semuanya lebih baik,” tuturnya.
Lebih lanjut Anis mengungkapkan, saat ini komitmennya menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) yang ada di Kabupaten Nganjuk. (nov/wib)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira