JP Radar Nganjuk - Bandara Internasional Juanda di Sidoarjo, Jawa Timur, merupakan salah satu bandara tersibuk di Indonesia, melayani ratusan penerbangan domestik dan internasional setiap harinya.
Namun, ada kalanya bandara ini harus ditutup sementara, misalnya karena perbaikan landasan pacu, cuaca buruk, atau keamanan.
Sebagai contoh, pada 25 April 2025, Bandara Juanda sempat ditutup selama 15 menit untuk pemeriksaan keamanan, menyebabkan penerbangan seperti Super Air Jet rute Labuan Bajo-Surabaya dialihkan ke Bandara Ahmad Yani, Semarang.
Pertanyaannya, bisakah Bandara Dhoho di Kediri menjadi solusi pengalihan penerbangan dalam situasi seperti ini?
Bandara Internasional Dhoho, yang diresmikan pada 18 Oktober 2024, adalah bandara baru yang dibangun oleh PT Surya Dhoho Investama, anak usaha PT Gudang Garam Tbk, dengan investasi Rp 12 triliun.
Berlokasi di Kabupaten Kediri, sekitar 120 km dari Surabaya, bandara ini memiliki landasan pacu sepanjang 3.300 meter yang mampu menampung pesawat berbadan lebar seperti Boeing 777.
Saat ini, Bandara Dhoho melayani rute domestik seperti Kediri-Jakarta dan Kediri-Balikpapan dengan maskapai Citilink dan Super Air Jet, serta direncanakan untuk penerbangan haji dan umrah langsung ke Jeddah.
Meskipun Bandara Dhoho memiliki infrastruktur modern, kapasitasnya masih terbatas dibandingkan Juanda.
Terminal Dhoho hanya mampu menampung 1,5 juta penumpang per tahun, jauh di bawah Bandara Juanda yang melayani sekitar 500 penerbangan per hari.
Sejak soft launching pada April 2024, Dhoho telah melayani lebih dari 20.000 penumpang dengan 175 pergerakan pesawat, menunjukkan operasional yang masih dalam tahap awal.
Bandara ini juga belum memiliki konektivitas rute sebanyak Juanda, yang melayani 28 rute domestik dan 8 rute internasional, termasuk Singapura, Kuala Lumpur, dan Jeddah.
Jika Juanda ditutup beberapa menit, pengalihan penerbangan ke Dhoho secara teknis memungkinkan untuk pesawat tertentu, terutama yang berukuran kecil hingga menengah. Namun, beberapa tantangan harus dipertimbangkan:
- Jarak dan Waktu Tempuh: Jarak 120 km dari Juanda ke Dhoho membutuhkan waktu tempuh darat sekitar 2-3 jam, kecuali jika akses tol Kediri-Kertosono selesai, yang diperkirakan mempersingkat waktu menjadi 1 jam. Ini bisa menyulitkan koordinasi penumpang dan logistik.
- Kapasitas Operasional: Dengan jadwal penerbangan yang masih terbatas, Dhoho mungkin kesulitan menampung lonjakan penerbangan mendadak dari Juanda, terutama pada jam sibuk.
- Fasilitas Pendukung: Dhoho belum memiliki fasilitas lengkap seperti asrama haji atau hotel di dalam kawasan bandara, yang dapat menjadi kendala untuk penumpang yang dialihkan, terutama untuk penerbangan internasional.
Baca Juga: Kapan Penerbangan Kediri-Denpasar di Bandara Dhoho Terealisasi, atau Sekadar Wacana?
Pengalihan penerbangan dari Juanda bukan hal baru. Pada 2019, kerusakan landasan pacu menyebabkan 11 penerbangan dialihkan ke Denpasar dan Semarang. Pada April 2025, penerbangan dialihkan ke Semarang karena pemeriksaan obstacle.
Bandara Ahmad Yani di Semarang atau Bandara Ngurah Rai di Bali sering menjadi pilihan karena kapasitas dan konektivitasnya yang lebih mapan dibandingkan Dhoho.
Selain itu, Bandara Abdulrachman Saleh di Malang, meskipun lebih dekat, memiliki keterbatasan landasan pacu yang hanya cocok untuk pesawat kecil.
Bandara Dhoho dirancang untuk melengkapi Juanda, bukan menggantikannya. Dengan rencana pengembangan seperti akses tol dan asrama haji, Dhoho berpotensi menjadi alternatif yang lebih layak di masa depan, terutama untuk penerbangan haji dan umrah dari wilayah Jawa Timur selatan.
Namun, untuk saat ini, pengalihan penerbangan dalam waktu singkat lebih realistis dilakukan ke bandara dengan infrastruktur lebih matang seperti Semarang atau Bali.
Meskipun Bandara Dhoho memiliki potensi sebagai alternatif pengalihan penerbangan dari Juanda, keterbatasan kapasitas, konektivitas, dan aksesibilitas membuatnya kurang ideal untuk menangani penutupan sementara Juanda dalam waktu dekat.
Untuk penutupan singkat beberapa menit, maskapai mungkin lebih memilih menunda penerbangan atau mengalihkan ke bandara yang lebih siap seperti Ahmad Yani atau Ngurah Rai.
Namun, dengan pengembangan lebih lanjut, Dhoho bisa menjadi solusi strategis di masa depan, khususnya untuk wilayah Kediri dan sekitarnya.
Editor : Elna Malika