- Nama "Dhoho" Berakar dari Sejarah Kerajaan Kuno
Nama "Dhoho" diambil dari "Dahanapura" atau "Daha," yang berarti "Kota Api."Daha adalah ibu kota Kerajaan Panjalu Kediri pada abad ke-11 Masehi, yang dikenal sebagai pusat kebudayaan dan pemerintahan di bawah Raja Airlangga.Pemilihan nama ini bukan hanya simbol kebanggaan lokal, tetapi juga menggambarkan semangat Kediri sebagai pusat baru perekonomian dan konektivitas di Jawa Timur. - Perjalanan Panjang Sebelum Disetujui
Proyek Bandara Dhoho sempat menghadapi penolakan berulang. Pada 2012, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menolak rencana pembangunan karena tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) provinsi.Kemudian, pada 2018, Presiden Joko Widodo menolak menjadikan proyek ini sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN).Baru pada 2020, proyek ini mendapat lampu hijau setelah ditetapkan sebagai PSN, menunjukkan ketekunan pihak swasta dalam mewujudkan visi ini. - Landasan Pacu Terpanjang di Jawa Timur
Bandara Dhoho memiliki landasan pacu sepanjang 3.300 meter, menjadikannya bandara dengan landasan pacu terpanjang di Jawa Timur, mengungguli Bandara Juanda di Surabaya.Panjang ini memungkinkan bandara melayani pesawat berbadan lebar seperti Boeing 777 atau Airbus A350, membuka potensi untuk penerbangan jarak jauh, termasuk rute internasional seperti haji dan umrah langsung ke Jeddah. - Desain Terminal yang Mengusung Budaya Lokal
Terminal Bandara Dhoho dirancang dengan sentuhan budaya lokal Kediri. Interior terminal menampilkan ornamen yang terinspirasi dari seni ukir tradisional Jawa dan motif batik khas daerah.Selain itu, terdapat galeri kecil di area terminal yang memamerkan sejarah Kerajaan Kediri dan artefak budaya lokal, memberikan pengalaman budaya bagi penumpang yang transit atau berkunjung.
Baca Juga: Rekomendasi 5 Spot Foto Instagramable di Bandara Dhoho Kediri, Dijamin Fotomu Langsung FYP!
- Ramah Lingkungan dengan Teknologi Modern
Bandara ini dilengkapi dengan teknologi ramah lingkungan, seperti sistem pengelolaan air hujan untuk irigasi dan panel surya untuk mendukung sebagian kebutuhan listrik.Selain itu, bandara menggunakan sistem pencahayaan LED pintar yang hemat energi dan sistem daur ulang limbah untuk mengurangi dampak lingkungan.Inisiatif ini menjadikan Bandara Dhoho sebagai salah satu bandara berkelanjutan di Indonesia. - Kawasan Ekonomi Khusus di Sekitar Bandara
Tidak hanya berfungsi sebagai bandara, kawasan sekitar Bandara Dhoho direncanakan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang terintegrasi.KEK ini akan mencakup pusat logistik, kawasan industri ringan, dan zona pariwisata.Proyek ini diharapkan menarik investasi dan menciptakan ribuan lapangan kerja, terutama bagi masyarakat lokal di Kediri, Nganjuk, dan Tulungagung. - Pendorong Pariwisata Religi dan Budaya
Bandara Dhoho strategis untuk mendukung pariwisata religi dan budaya.Kediri dikenal sebagai pusat sejarah Islam dengan keberadaan Masjid Agung Kediri dan makam Syekh Wasil Syamsuddin, salah satu penyebar agama Islam di Jawa.Selain itu, bandara ini memudahkan akses ke destinasi wisata seperti Candi Penataran di Blitar dan Gunung Kelud, yang sebelumnya sulit dijangkau karena jarak dari bandara besar. - Operasional Awal dengan Maskapai Low-Cost
Meski memiliki fasilitas kelas dunia, penerbangan perdana Bandara Dhoho dilayani oleh maskapai berbiaya rendah seperti Super Air Jet dan Citilink, dengan rute utama Jakarta-Kediri.Harga tiket yang kompetitif, mulai dari Rp700.000 untuk penerbangan sekali jalan, membuat bandara ini langsung diminati masyarakat.Rencananya, rute internasional seperti Kuala Lumpur dan Singapura akan segera dibuka pada 2025.