NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Kebijakan baru haji oleh Arab Saudi mulai menuai beragam dampak. Pasalnya beberapa jemaah harus terpisah dengan keluarganya. Sebab mereka berbeda syarikah.
Plt Kepala Seksi (Kasi) Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Nganjuk Sutopo mengatakan, ada beberapa jemaah haji asal Kabupaten Nganjuk yang terpisah dengan keluarga atau pendamping.
"Itu konsekuensinya kalau syarikah ini diterapkan," ujarnya.
Sutopo menjelaskan, dengan adanya kebijakan baru tersebut Kantor Kemenag Kabupaten Nganjuk juga harus mengikuti kebijakan Pemerintah Arab Saudi.
Sehingga, jika sebelumnya sudah diatur dengan orang tua atau pendamping memang ada beberapa yang terpisah.
"Kalau seperti itu ya tetap pilihannya berangkat atau tidak, seperti di kota lain ada yang mengundurkan diri juga. Namun di Kabupaten Nganjuk Insya Allah tidak ada yang mengundurkan diri," papar Sutopo.
Tetapi untuk sementara ini, lanjut Sutopo, pihaknya membantu dengan mengajukan permohonan dijadikan satu dengan keluarga meski berbeda syarikah.
Namun permohonan tersebut nantinya akan dikirimkan langsung ke Arab Saudi.
"Jadi dari kami mengajukan permohonan beserta surat pernyataan untuk tetap digabungkan dengan pendamping atau dengan keluarga, tetapi persetujuannya langsung dari sana," ungkapnya.
Sejauh ini, beberapa jemaah yang berangkat disetujui untuk bergabung dengan keluarganya. Namun ketika di Madinah, Sutopo menyebut, ia tidak mengetahui secara pasti.
"Karena kalau sudah di sana itu yang mengurus dari pihak syarikah itu," katanya.
Untuk diketahui, syarikah bertanggung jawab atas layanan jemaah. Mulai dari akomodasi, konsumsi, transportasi, dan pergerakan selama di Tanah Suci.
Dengan berbeda syarikah, Sutopo menyebut, hotel ataupun yang lainnya tentu juga akan berbeda.
"Mulai dari kedatangan baik di bandara Madinah atau Mekkah itu sudah dijemput oleh syarikahnya masing-masing," pungkasnya. (nov/tyo)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira