NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Nganjuk tak hanya dikenal sebagai Kota Angin, tapi juga sebagai salah satu “surga” bagi pecinta motor klasik, khususnya Honda CB.
Julukan “Kota CB” muncul bukan karena iseng semata, melainkan karena begitu banyaknya pengendara motor CB yang wara-wiri di jalanan kota ini, dari jalan utama hingga perkampungan.
Motor Honda CB sendiri merupakan motor keluaran lama yang dulu sangat populer di era 70 hingga 80-an.
Meski sudah tak lagi diproduksi, motor ini tetap hidup lewat tangan-tangan kreatif para modifikator dan pecintanya.
Di Nganjuk, kecintaan terhadap CB tak hanya soal mesin tua, tapi sudah jadi bagian dari identitas anak jalanan yang solid dan penuh semangat persaudaraan.
Komunitas CB di Nganjuk mulai tumbuh sekitar awal tahun 2000-an. Saat itu, sekumpulan anak muda yang gemar nongkrong di sekitar alun-alun dan terminal Nganjuk mulai rutin berkumpul membicarakan satu hal yang sama, yakni motor CB.
Dari sinilah lahir komunitas seperti CB Nganjuk Brotherhood (CBNB), yang jadi salah satu pelopor wadah pecinta CB di kota ini.
Komunitas ini awalnya bersifat informal. Para anggotanya saling kenal lewat pertemuan jalanan dan warung kopi.
Namun seiring waktu, mereka mulai menata diri dengan struktur organisasi, aturan berkendara, hingga kegiatan rutin.
Touring bersama, kopdar, dan diskusi soal modifikasi menjadi rutinitas yang mempererat hubungan di antara para anggotanya.
CB bukan cuma soal gaya klasik dan suara knalpot yang ngebass, tapi juga tentang kebersamaan.
Komunitas-komunitas CB di Nganjuk menjunjung tinggi nilai solidaritas dan anti arogansi di jalan.
Mereka menolak balap liar dan selalu mengutamakan keselamatan. Ini juga yang membuat mereka dihormati oleh komunitas motor lainnya.
Tak hanya nongkrong dan touring, komunitas CB di Nganjuk juga aktif dalam kegiatan sosial.
Mereka kerap mengadakan aksi kemanusiaan seperti donor darah, santunan anak yatim, hingga bagi takjil dan bersih lingkungan saat Ramadan.
Hal ini memperlihatkan bahwa anak motor juga punya sisi empati yang tinggi.
Komunitas CB juga rutin mengadakan acara besar, seperti Jambore CB, Anniversary Chapter, hingga gathering antardaerah.
Event semacam ini biasanya diadakan di lapangan terbuka dan menghadirkan ratusan hingga ribuan rider dari seluruh Jawa Timur, bahkan dari luar pulau.
Nganjuk pun jadi salah satu titik penting dalam peta komunitas CB nasional.
Yang menarik, komunitas CB di Nganjuk juga jadi tempat belajar mekanik bagi pemuda lokal. Banyak anggota yang belajar otodidak tentang cara merakit dan merestorasi CB dari nol.
Bahkan, ada yang kemudian membuka bengkel sendiri berkat pengalaman dari komunitas ini. Jadi, dari hobi bisa tumbuh jadi penghasilan.
Hingga kini, CB masih sering terlihat di jalanan Nganjuk. Meski sudah tergeser oleh motor-motor matic yang lebih modern, keberadaan CB tetap punya tempat istimewa.
Ia bukan sekadar motor, tapi simbol gaya hidup, semangat kekerabatan, dan budaya klasik yang tetap hidup di tengah zaman yang terus berubah.
Komunitas CB di Nganjuk membuktikan bahwa persaudaraan bisa tumbuh dari hal sederhana seperti suara knalpot tua dan cinta pada mesin lama.
Dari jalanan, mereka menjalin persahabatan. Dari knalpot berkarat, mereka menyalakan semangat solidaritas yang tak lekang waktu.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira