JP Radar Nganjuk - Cuaca di Nganjuk sering kali menunjukkan pola yang khas: siang hari terasa panas menyengat, namun sore hingga malam kerap diguyur hujan.
Fenomena ini, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), merupakan karakteristik umum periode peralihan musim, atau yang dikenal sebagai pancaroba, dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya.
Salah satu faktor utama penyebab cuaca panas di siang hari adalah minimnya pertumbuhan awan.
BMKG menjelaskan bahwa selama periode peralihan musim, kondisi cuaca di pagi hingga siang hari cenderung cerah dengan tingkat pertumbuhan awan yang rendah.
Akar masalahnya terletak pada intensitas penyinaran matahari yang kuat tanpa hambatan signifikan dari awan.
Hal ini menyebabkan suhu udara di permukaan bumi meningkat drastis, sering kali mencapai 33-36°C di Nganjuk, yang terasa sangat terik.
Selain itu, posisi semu matahari juga berperan penting. Pada bulan-bulan tertentu, seperti April-Mei atau September-Oktober, matahari berada pada posisi lintang yang mendukung penyinaran optimal di wilayah Indonesia, termasuk Nganjuk.
Hal ini memperkuat efek panas di siang hari, terutama ketika awan minim.
Menjelang sore, kondisi atmosfer di Nganjuk menjadi lebih labil akibat kombinasi suhu permukaan laut yang hangat, tekanan udara, dan kelembapan tinggi.
BMKG mencatat bahwa faktor-faktor ini memicu pembentukan awan konvektif, seperti awan Cumulonimbus, yang sering kali menyebabkan hujan lebat, petir, dan angin kencang.
Hujan ini biasanya terjadi pada siang menjelang sore atau sore menjelang malam, sebagai respons terhadap akumulasi panas dan kelembapan di siang hari.
Kondisi ini diperparah oleh kelembapan udara yang relatif tinggi di Nganjuk, yang berkontribusi pada rasa “gerah” sebelum hujan turun.
Berdasarkan data yang tercantum di website BMKG, periode peralihan musim sering ditandai dengan pola cuaca seperti ini: pagi cerah, siang terik, dan sore hingga malam berpotensi hujan.
Nganjuk, yang terletak di Jawa Timur, memiliki karakteristik iklim tropis dengan suhu rata-rata tahunan berkisar antara 21°C hingga 35°C.
Musim hujan di wilayah ini biasanya mendung, sementara musim kemarau cenderung cerah dengan awan parsial.
Selain itu, kondisi maritim di sekitar Indonesia, seperti suhu laut yang hangat, dan topografi pegunungan di Jawa, mendukung pembentukan awan hujan secara periodik, terutama di sore hari.
Fenomena ini mendinginkan suhu permukaan setelah panas yang intens di siang hari.
BMKG juga mengingatkan masyarakat Nganjuk untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, seperti hujan lebat disertai petir dan angin kencang, yang dapat terjadi pada sore hingga malam hari.
Berdasarkan prakiraan cuaca tanggal 23 Mei 2025, beberapa wilayah di Indonesia, termasuk Jawa Timur, masih berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat.
Masyarakat diimbau untuk memantau perkembangan cuaca melalui laman resmi BMKG untuk mengatur aktivitas sehari-hari dan mengantisipasi dampak cuaca ekstrem.
Fenomena siang panas dan sore hujan di Nganjuk adalah hasil dari dinamika atmosfer khas periode peralihan musim.
Minimnya awan di siang hari menyebabkan penyinaran matahari yang intens, sementara akumulasi panas dan kelembapan memicu hujan di sore hari.
Dengan memahami pola cuaca ini, masyarakat dapat lebih siap menghadapi perubahan cuaca yang cepat dan menjaga keselamatan serta kenyamanan selama periode pancaroba.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi situs resmi BMKG di www.bmkg.go.id.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira