JP Radar Nganjuk - Di tengah geliat komunitas motor klasik yang terus tumbuh di berbagai daerah Indonesia, Nganjuk turut menorehkan sejarahnya sendiri lewat kehadiran sebuah tugu ikonik.
Monumen CB Prambon, yang berdiri megah di Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk, menjadi bukti nyata kecintaan warga Nganjuk terhadap motor Honda CB.
Tidak hanya berfungsi sebagai simbol, tugu ini juga menjadi pusat kebanggaan dan identitas komunitas CB di wilayah tersebut.
Banyak yang menyebut Monumen CB Prambon sebagai salah satu tugu motor CB pertama di Indonesia.
Keberadaannya tidak hanya menarik perhatian para pengendara yang melintas, tetapi juga menjadi magnet bagi para penggemar motor klasik dari berbagai daerah.
Bentuk monumennya yang berupa replika Honda CB utuh, berdiri di atas fondasi beton, menggambarkan betapa ikoniknya motor tersebut di kalangan pecintanya.
Monumen ini bukan dibangun oleh pemerintah daerah, melainkan merupakan hasil swadaya dan kerja gotong royong komunitas CB lokal yang ingin meninggalkan warisan fisik dari semangat mereka.
Semangat tersebut bermula dari turing-turing kecil, kopi darat (kopdar), dan perayaan-perayaan sederhana yang lama kelamaan berkembang menjadi wadah kebersamaan dan solidaritas.
Tugu ini menjadi titik kumpul penting ketika komunitas CB dari berbagai kota mengadakan turing melintasi Jawa Timur.
Banyak perayaan ulang tahun komunitas CB maupun even otomotif lokal yang menjadikan Monumen CB Prambon sebagai lokasi seremonial.
Tak jarang, kawasan sekitarnya ramai oleh tenda UMKM, panggung musik, hingga bazar sparepart motor klasik saat acara digelar.
Keberadaan monumen ini membawa dampak ekonomi positif bagi masyarakat sekitar.
Warung-warung kecil dan pedagang kaki lima yang berada di sekitar lokasi turut mendapatkan berkah dari ramainya acara komunitas.
Bahkan, Monumen CB ini juga kerap dijadikan lokasi konten oleh kreator TikTok dan YouTube yang mengangkat budaya otomotif klasik.
Dalam konteks sejarah, Honda CB sendiri adalah motor legendaris dari era 1970-an hingga 1980-an yang dikenal karena ketahanan dan desainnya yang khas.
Di tangan para penggemarnya, motor CB kerap dimodifikasi menjadi lebih personal, baik dalam gaya japstyle, cafe racer, hingga klasik original.
Monumen CB Prambon pun seolah menjadi representasi dari semua aliran itu: klasik, kuat, dan penuh semangat.
Bagi komunitas CB, monumen ini juga menjadi ruang spiritual tempat di mana mereka merenung dan mengenang masa awal kebersamaan.
Tak sedikit yang menjadikan momen berfoto di depan tugu sebagai ritual wajib ketika pertama kali bergabung dengan komunitas.
Bahkan, beberapa pasangan biker CB pernah menjadikan tempat ini sebagai latar sesi foto pranikah mereka.
Monumen ini juga sering digunakan sebagai titik awal turing lintas provinsi. Komunitas dari luar daerah biasanya singgah, sekadar beristirahat atau menyerahkan kenang-kenangan kepada komunitas CB Nganjuk.
Dari sini, banyak relasi dan pertemanan antar daerah yang terjalin, mempererat jaringan pecinta otomotif klasik secara nasional.
Dengan desain yang sederhana namun penuh makna, Monumen CB Prambon telah menjadi lebih dari sekadar tugu.
Ia adalah simbol dari perjuangan komunitas dalam mempertahankan budaya otomotif yang dianggap ‘usang’ oleh sebagian orang, namun justru tetap hidup dan berkembang karena semangat kebersamaan dan cinta terhadap mesin lawas.
Melalui Monumen CB Prambon, Nganjuk membuktikan bahwa kota ini bukan hanya sekadar jalur lintasan kendaraan, melainkan juga titik berhenti yang menyimpan cerita.
Bagi siapa pun yang melintasi Kecamatan Prambon, sempatkanlah untuk mampir.
Karena di sana, di sebuah desa kecil bernama Tanjungtani, berdiri sebuah monumen yang menyimpan semangat besar para pencinta motor klasik.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira