Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Kenapa Sih Motor Pelat AG Sering Jadi Bahan Guyon? Ini Alasannya!

Elna Malika • Rabu, 28 Mei 2025 | 03:20 WIB
Plat AG Nganjuk
Plat AG Nganjuk

JP Radar Nganjuk - Dalam jagat lalu lintas Jawa Timur, keberadaan kendaraan dengan pelat nomor AG sering kali menjadi sorotan tersendiri.

Meski tidak melakukan kesalahan berarti, pengendara dari daerah yang dikenal sebagai wilayah eks-Karesidenan Kediri ini kerap menjadi objek guyonan, terutama saat berkendara di kota-kota besar seperti Surabaya dan Malang.

Fenomena ini menimbulkan tanda tanya, mengapa pelat AG begitu mudah dijadikan bahan olok-olok?

Pelat AG mencakup sejumlah daerah di Jawa Timur bagian barat daya seperti Kediri, Nganjuk, Tulungagung, Trenggalek, dan Blitar.

Wilayah-wilayah ini cenderung dikenal dengan budaya masyarakat yang santun, sederhana, dan tidak neko-neko.

 Baca Juga: Gempa 5,7 SR Goyang Pacitan, Getaran Dirasakan Hingga Nganjuk

Namun, ketika kendaraan berpelat AG merambah jalanan kota besar, tak jarang mereka mendapat stigma sebagai "pengendara lugu yang sok tahu arah" atau "sopir desa yang masuk kota."

Lelucon mengenai pengendara pelat AG kerap bermunculan di media sosial maupun percakapan sehari-hari.

Mulai dari narasi soal mereka yang salah jalur di bundaran, tidak paham etika klakson, hingga cerita-cerita kocak soal motor berhenti mendadak karena bingung arah.

Meski lucu, stereotipe ini terkadang berlebihan dan berpotensi membentuk prasangka sosial yang tidak adil.

Beberapa warganet dari Malang dan Surabaya bahkan mengaitkan pelat AG dengan gaya berkendara yang dianggap "nggak biasa."

 Baca Juga: Nganjuk Menuju Zero Knalpot Brong, Satlantas Tilang 259 Pengendara

Namun jika ditelusuri lebih dalam, banyak dari para pengendara pelat AG adalah pelajar, mahasiswa, atau pekerja migran yang sedang merantau.

Mereka tidak asing dengan jalanan kota, hanya mungkin tidak terbiasa dengan ritme lalu lintas yang lebih padat dan agresif.

Sejumlah pengendara pelat AG yang ditemui di Surabaya mengaku tak terlalu memusingkan cibiran tersebut.

Sebagian menganggapnya hanya guyonan khas masyarakat Jawa Timur yang dikenal suka bercanda.

Namun, ada juga yang merasa dilecehkan secara halus, apalagi jika ledekan itu muncul di jalan raya dalam bentuk klakson berlebihan atau komentar kasar dari pengendara lain.

 Baca Juga: Hujan Deras Bikin Warga Nganjuk Waswas. BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem Akan Terjadi Minggu Ini

Menurut sosiolog dari Universitas Airlangga, lelucon seperti ini berakar dari relasi pusat dan pinggiran.

Kota-kota besar cenderung merasa lebih unggul dari segi infrastruktur dan budaya lalu lintas, sehingga muncul kecenderungan untuk “merendahkan” pendatang dari daerah lain.

Dalam konteks ini, pelat AG menjadi simbol dari luar kota yang dengan mudah distigmatisasi, meski kenyataannya tidak semua anggapan itu benar.

Di sisi lain, pengendara dari wilayah pelat AG menunjukkan ketahanan sosial yang menarik. Meski sering jadi bahan olok-olok, mereka tetap berkendara dengan tenang, mengikuti aturan, dan tidak membalas dengan arogansi.

Beberapa bahkan membalas ledekan dengan candaan balik atau menambahkan stiker lucu bertuliskan “AG: Aku Gak Ribut” atau “Pelan Tapi Pasti.”

 Baca Juga: Pemkab Nganjuk Serahkan SK CPNS, Penempatan Kerja Dimulai Bulan Depan

Fenomena ini pun menjadi bahan refleksi soal bagaimana masyarakat kota besar memperlakukan sesama pengguna jalan.

Apakah wajar menjadikan asal daerah sebagai bahan candaan? Di tengah kampanye kesadaran lalu lintas dan sopan santun berkendara, fenomena diskriminasi berbasis pelat nomor seharusnya menjadi perhatian bersama.

Tak sedikit juga warga Surabaya dan Malang yang membela pengendara pelat AG. Mereka menyebut banyak pelat AG yang justru tertib, membantu sesama pengguna jalan, dan ramah.

Ini menjadi pengingat bahwa tak semua stereotipe mencerminkan realita, dan penting bagi publik untuk tidak menilai hanya dari kode huruf di pelat kendaraan.

Pada akhirnya, pengendara pelat AG tetap melaju di jalan raya meski pelan, mereka pasti. Mereka menjadi simbol dari masyarakat yang tahan olok-olok tapi tak kehilangan akal sehat.

Di tengah jalanan yang penuh tekanan dan ego, mungkin gaya berkendara “santai tapi selamat” ala pelat AG justru patut diteladani.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#lelucon #kediri #Pelat #AG #guyon #radar nganjuk berita hari ini #sederhana #nganjuk #santun #bahan #budaya