JP Nganjuk - Namanya adalah Andik Abdul Rohman. Seorang pionir toko kue di Kabupaten Nganjuk.
Meski sudah sangat terkenal, ternyata perjuangan yang dialami oleh pria yang akrab disapa Dika itu tidak mudah. Bahkan, dulu saat pandemi, usaha toko rotinya nyaris gulung tikar.
ANDIK Abdul Rohman seakan-akan memang ditakdirkan menjadi seorang pembuat kue.
Bagaimana tidak, sudah tak terhitung jatuh bangun yang dialami oleh pria yang akrab disapa Dika itu.
Namun selama itu juga Dika memilih untuk bangkit. Kini setelah bergelut di usaha kue selama delapan tahun, Dika mulai menikmati hasilnya.
Pria asal Kelurahan Bogo, Kecamatan Nganjuk itu menceritakan awal mula dia bisa jatuh hati ke dunia kuliner.
Dulu, waktu kecil, Dika sering ikut orang tuanya bekerja. Selama waktu bekerja, Dika sering dititip-titipkan ke orang-orang.
Salah satunya pada seorang juru masak di kantor. Selama waktu itu, Dika mulai akrab dengan dunia kuliner.
“Saat di dapur saya melihat orang bikin roti, bikin masakan disitu saya mulai tertarik,” ujarnya.
Dari situlah Dika berkeinginan kuliah jurusan tata boga. Pemuda berusia 31 tahun itu lalu mengambil kuliah di Monas Kuliner Akademi, Kota Surabaya pada 2015.
Meski awalnya tidak mendapat restu dari kedua orang tua, tetapi Dika tetap ingin membuktikan kepada orang tuanya.
“Awalnya orang tua tidak mengizinkan, tetapi saya ingin membuktikan,” paparnya.
Setelah menyelesaikan kuliah, Dika pun langsung kembali ke kampung halaman. Ia pun memutar otak bagaimana ia bisa membangun bisnis toko roti di Nganjuk.
“Awal buka itu 2017, masih online jadi cuman buat pesanan roti ulang tahun aja,” tambah Dika.
Dari situlah roti buatan Dika mulai terkenal. Dia mulai kebanjiran pesanan hingga luar kota.
Bahkan ada juga yang pesan dari Taiwan. Dia pun langsung memiliki ide untuk membuka outlet toko kuenya sendiri.
Tahun 2020 dia mulai membuka outlet toko roti. Namun, dari situlah perjuangannya. Baru satu bulan buka ternyata ada Covid, sehingga Dika menutup bisnisnya itu selama tiga bulan.
“Dari situ saya muter otak bagaimana membangun bisnis ini agar bisa bertahan,” ungkapnya.
Dia pun mulai mencoba roti-roti yang sempat viral. Kegagalan sudah menjadi temannya saat itu. Sebab saat dia sudah berusaha tetapi tidak sesuai dengan kenyataanya.
“Kalau saya buat yang niat gitu malah ngga laku, tapi kalau buatnya iseng malah laku,” tawanya.
Dika tak patah semangat. Ia terus mengembangkan bisnis yang sudah lama ia tekuni itu. Bahkan ia rela ke Surabaya untuk melihat roti-roti yang kekinian.
“Biasanya ide muncul dari sosial media, tetapi kalau misal ada yang hits di Surabaya itu ya gapapa lah saya sekalian nyobak langsung disana,” pungkasnya. (nov/wib)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira