NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Menjadi ketua kloter haji adalah sebuah pengalaman yang penuh suka dan duka. Di satu sisi, ada kebahagiaan dan kebanggaan karena bisa membantu jemaah menunaikan ibadah haji. Namun, di sisi lain, terdapat tantangan yang harus dihadapi.
"Saya sudah tiga kali ini menjadi TPIH (Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia)," ujar Muksin.
Namun, baru kali ini dia mendapatkan amanah menjadi ketua kloter. Menjadi seorang ketua kloter bukanlah hal yang mudah dijalani baginya.
Dengan berbekal pengetahuan yang ia dapat dari berbagai sumber, bimbingan teknis yang diberikan dan pengalaman para petugas lalu, Muksin berusaha keras menjalankan amanah itu sebaik-baiknya.
"Kebetulan sistem syarikahnya baru tahun ini. Suka dukanya pasti ada tapi apapun itu dibikin suka," ujarnya.
Tugas Muksin harus memimpin sebanyak 376 jemaah untuk memastikan kesehatan, konsumsi dan tugas terpentinya ialah menyiapkan berbagai administrasi yang dibutuhkan para jemaah.
Dengan kebijakan yang berbeda dengan tahun sebelumnya tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi Muksin. Terlebih, ia harus tertahan satu hari di Daker (Daerah Kerja). Sebab syarikah Muksin dengan ratusan jemaah asal Nganjuk berbeda
"Kami baru tahu syarikah kami dengan jemaah berbeda-beda pada saat sudah di sini," papar pria asal Wilangan itu.
Meski syarikah berbeda, Muksin tak merasa kesal. Bahkan ia merasa senang. Karena ia harus tidur di daker. Sebab dengan cara itulah ia bisa berkoordinasi dengan petugas lainnya.
"Saya bisa mengenal petugas lain juga, agar bisa berkoordinasi dengan petugas lain," tambahnya.
Jika dulunya petugas hanya mengenal satu hotel yang ditempati, lain halnya dengan tahun ini. Mereka harus mengenali semua hotel. Bahkan mereka bisa tidur di hotel mana saja yang dikehendaki.
"Karena ada kantor sektor, tiap sektornya juga harus saling kenal karena ada beberapa jamaah yang ada di sektor lain," jelas pria berusia 55 tahun itu.
Pada saat mengurus kebutuhan jemaah tentunya Muksin juga berkoordinasi dengan petugas yang ada di Arab Saudi. Berbeda bahasa pun juga menjadi tantangan bagi Muksin.
"Terkadang bahasa formal itu kan juga tidak sepenuhnya sama, kebetulan karena ada petugas banyak sekali, orang Arab itu banyak juga yang memahami tentang Indonesia," ungkapnya.
Tentunya tak hanya bertemu dengan orang Indonesia saja, melainkan dengan berbagai orang beda negara. Dari orang-orang beberapa negara tersebut, menurut Muksin di sana menganggap semua saudara, baik itu secara ibadah maupun lainnya.
Ia menceritakan, pada saat menemani jemaahnya towaf dengan banyaknya orang dengan postur tubuh yang berbeda, di sana tidak ada yang marah-marah. Bahkan mereka saling memberi jalan.
"Bahkan yang saya lihat itu, kebetulan jemaah ada yang umroh siang hari, ada orang yang sukarela membagikan payung, minuman atau kurma," jelas Muksin. (tyo)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira