NGANJUK, JP Radar Nganjuk - PENJUAL kambing di sepanjang jalan Kediri-Nganjuk memang hanya sementara.
Karena setelah sekitar satu minggu, mereka akan berpindah tempat. Kembali ke pasar tempat mereka semula berjualan.
Meski hanya sementara, mereka tetap totalitas dalam berjualan. Salah satunya dengan membangun kandang semi permanen.
Kandang-kandang itu dibangun dengan menggunakan bambu yang disusun secara rapi. Ditambah dengan atap untuk melindungi hewan dari matahari dan hujan.
Kambing yang dijual juga sangat banyak. Tidak hanya hitungan jari. Melainkan hingga puluhan.
Namun ternyata hal itu membawa masalah baru. Yaitu pedagang yang tidak bisa memindah hewan kurban ketika malam hari.
Karena pasti akan merepotkan dan membuat biaya operasional bertambah.
Alih-alih memindahkan hewan kurban, para penjual memilih untuk tidur bersama hewan-hewan di kandang semi permanen itu.
“Ada yang bagian jaga malam, jadi tidurnya shift-shift-an,” ujar salah satu penjual kambing bernama Johan.
Dia mengaku lebih memilih tidak menutup lapaknya jelang Idul Adha lantaran para pembelinya tidak menentu. Bahkan kadang ada yang beli saat tengah malam.
“Kalau ada yang nyari malam-malam kan sini siap,” paparnya.
Selain mempermudah pembeli, menurut Johan hal tersebut juga efisien tenaga. Sebab jika ditutup nantinya akan memakan tenaga.
Ditanya terkait tutup, Johan menuturkan, biasanya lapaknya akan tutup pada h+2 Idul Adha. Lantaran biasanya pada saat hari h masih ada beberapa orang yang mencari kambing.
“Habis sholat Ied itu kadang ada yang masih nyari juga,” tambahnya.
Tak hanya Johan yang lebih memilih tidur bersama kambingnya di lapak, Suwito pun juga melakukan hal yang sama. “Ada teman yang bagian jaga malam disini," ujarnya.
Menurut Suwito, hal tersebut sudah hal yang baisa bagi penjual kambing.
Sebab hak tersebut cuman ada saat musim Idul Adha. “Cuman ada pas Idul Adha saja seperti itu,” pungkasnya. (nov/wib)
Editor : Jauhar Yohanis