NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk sukses menggelar Boyong Natapraja dan Sedekah Bumi tahun 2025 kemarin. Prosesi tersebut adalah bentuk penghormatan dan ungkapan rasa syukur atas peristiwa bersejarah perpindahan pusat pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk,
Bupati Marhaen Djumadi dan Wabup Trihandy Cahyo Saputro yang memimpin langsung prosesi tersebut dari Alun-Alun Berbek. Ditandai dengan menerima dua buah pusaka dari sesepuh setempat.
Baca Juga: Pemerintah Kabupaten Nganjuk Berhasil Turunkan Angka Stunting. Berapa Persen Penurunannya?
Kedua pusaka tersebut berupa tombak bernama Kiai Jurang Penatas dan payung bernama Kiai Tunggul Wulung. Kedua pusaka tersebut kemudian diarak dengan menaiki kereta kuda menuju Pendapa KRT Sosrokoesoemo.
Kepala Disporabudpar Kabupaten Nganjuk Sri Handariningsih mengatakan, rangkaian prosesi boyong atau perpindahan telah dimulai pada Rabu malam (12/6). Diawali dengan kegiatan Bedal Pusaka atau prosesi perpindahan pusaka secara simbolis.
Kemudian dilanjutkan keesokan hari dengan kegiatan Boyong Natapraja dan Sedekah Bumi. Tahun ini Boyong Natapraja dan Sedekah Bumi mengusung tema ‘Notoprojo Bersinergi Membangun Negeri’.
Selain bupati dan wakil bupati, boyong turut diikuti jajaran perangkat daerah lainnya. Termasuk, lembaga vertikal, badan usaha, maupun masyarakat.
Untuk sedekah bumi, ditandai dengan arak-arakan sebanyak 20 gunungan yang berasal dari seluruh kecamatan di Kabupaten Nganjuk. Usai didoakan, gunungan kemudian direbut warga. “Pada masa silam, boyong berlangsung tanggal 6 Juni 1880. Pada era saat ini boyong tetap digelar sebagai penghormatan terhadap sejarah Kabupaten Nganjuk dan ungkapan rasa syukur,” ujarnya. (ik3/adv/tyo)
Editor : Jauhar Yohanis