NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Ancaman HIV/AIDS di Kabupaten Nganjuk harus diwaspadai.
Pasalnya, dalam setengah tahun ada puluhan warga Nganjuk terkena HIV/AIDS.
Menurut data Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk, tahun ini ada 83 kasus temuan baru HIV/AIDS.
Lebih sedikit dibanding tahun 2024. Yakni 330 kasus. Meski pada tahun ini mengalami penurunan, namun hal tersebut tidak bisa dianggap remeh.
“Kalau kasus baru tiap tahunnya grafiknya naik terus,” jelas Ruly Fika Bayuwati, Admin Kesehatan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P).
Menurut Fika, mayoritas penderita HIV/AIDS menular lewat seks.
Penderita HIV/AIDS berhubungan intim dengan orang yang sehat. Sehingga, orang sehat itu akhirnya terkena HIV/AIDS.
Selain menular lewat hubungan seksual, HIV/AIDS juga bisa menular lewat jarum suntik yang bekas dipakai penderita HIV/AIDS.
Kemudian, anak yang tertular HIV/AIDS dari ibu yang sudah terinfeksi.
“Mayoritas penderita HIV/AIDS tersebut tertular karena hubungan seksual. Mereka bergonta-ganti pasangan,” paparnya.
Berbagai upaya telah dilakukan agar screening HIV/AIDS dan obat rutin ODHA (orang dengan HIV/AIDS) terus berjalan. Salah satunya penyuluhan-penyuluhan.
Itu dilakukan agar para penyintas dan relawan itu bisa memberikan motivasi dan mendampingi ODHA tetap mau rutin minum obat.
Selain melakukan pencegahan, Dinkes juga gencar melaksanakan penyuluhan terkait bahaya HIV/AIDS.
Salah satu langkah Dinkes yakni dengan melakukan screening. “Secara pasifnya kami tetap menunggu pasien datang untuk di cek, atau melalui screening melalui kelompok populasi kunci,” ungkap Fika.
Populasi kunci HIV/AIDS sendiri ada waria, LSL (lelaki seks lelaki), WPS (wanita pekerja seks), WBP (warga binaan pemasyarakatan).
Tiga populasi itulah yang memiliki risiko tinggi tertular HIV dan rentan terhadap dampaknya.
“Selain populasi tadi yang diutamakan ada populasi umum, misalnya dari calon pengantin, dia juga dicek,” tambahnya.
Menurut Fika, saat ini pemerintah lebih mempermudah masyarakat untuk mengecek lebih dini. Salah satunya dengan pemeriksaan gratis tiap tahunnya.
Selain itu, dinkes juga bekerja sama dengan berbagai elemen, komunitas dan relawan untuk menjaring ODHA.
“Ada juga kegiatan mobile klinik, itu kami kerja sama dengan teman-teman LSM untuk mengumpulkan anggota untuk dites secara, sukarela,” paparnya.
Dengan berobat rutin, risiko penularan HIV/AIDS dari ODHA ke orang lain menjadi sangat rendah. Sehingga, ODHA tetap produktif. (nov/tyo)
Editor : Miko