NGANJUK, JP Radar Nganjuk – Angka kematian akibat HIV/AIDS terus meningkat. Menurut data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk, dari temuan sebanyak 2474 kasus, 37 persen atau 914 penderita meninggal dunia.
“Yang masih hidup ada 1.560 orang,” ujar Admin Kesehatan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Ruly Fika Bayuwati.
Menurut Fika, rata-rata penderita HIV/AIDS meninggal bukan semata-mata karena virus HIV/AIDS. Namun, karena ada penyakit penyerta. “Meninggalnya karena Tuberkulosis (TB), kanker, dan hipertensi,” tambahnya.
Baca Juga: Waspada! HIV/AIDS Ancam Nganjuk, Sudah 83 Kasus di Tahun 2025
Menurut Fika, jika orang dengan HIV/AIDS (ODHA) itu mudah terserang penyakit. Sehingga, jika dia memiliki penyakit penyerta maka ODHA akan cepat drop.
Ujung-ujungnya, dia akan meninggal dunia. “HIV/AIDS itu virusnya menyerang kekebalan tubuh manusia,” jelas Fika.
Hingga kini, Dinkes Nganjuk gencar melakukan edukasi melalui puskesmas, kampus, dan komunitas.
Selain itu, pihaknya juga jemput bola ke lokasi-lokasi berisiko tinggi. “Kami juga menunggu pasien datang untuk dicek, atau melalui screening melalui kelompok populasi kunci,” ungkap Fika.
Populasi kunci HIV/AIDS sendiri adalah waria, LSL (lelaki seks lelaki), WPS (wanita pekerja seks), dan WBP (warga binaan pemasyarakatan).
Baca Juga: Demi Uang, Mbak Pur 3S Pasrah Kena HIV/AIDS
Tiga populasi itulah yang memiliki risiko tinggi tertular HIV dan rentan terhadap dampaknya. “Calon pengantin juga kami cek untuk mencegah penularan HIV/AIDS,” tambah Fika.
Selain itu, dinkes juga bekerja sama dengan berbagai elemen, komunitas dan relawan untuk menjaring ODHA. “Ada juga kegiatan mobile clinic untuk orang yag mau dites HIV/AIDS secara sukarela,” pungkas Fika. (nov/tyo)
Editor : Miko