Warga Nganjuk tahukah kamu bahwa dahulu, tepatnya pada tahun 1880 M, Kecamatan Berbek yang kita kenal saat ini merupakan pusat pemerintahan atau ibu kota Kabupaten Nganjuk?
Berdasarkan informasi dari Jurnal Pendidikan Sejarah UNESA dan UM, dijelaskan bahwa Berbek adalah titik awal berdirinya pemerintahan Kabupaten Nganjuk. Ingin tahu lebih banyak? yuk simak penjelasannya berikut ini!
Awal Mula: Kanjeng Djimat, Bupati Pertama Berbek
Sejarah Kabupaten Nganjuk bermula pada tahun 1745 ketika K.R.T. Sosrokoesoemo I, yang lebih dikenal dengan gelar Kanjeng Djimat, diangkat sebagai Bupati pertama Berbek.
Di bawah kepemimpinannya, wilayah ini mulai berkembang menjadi pusat pemerintahan awal, ditandai dengan pembangunan berbagai fasilitas penting seperti alun-alun dan masjid atau elemen khas dalam tata ruang pemukiman tradisional pada masa itu.
Kondisi Wilayah Sebelum Tahun 1880
Sebelum menjadi seperti sekarang, baik Nganjuk maupun Berbek merupakan wilayah setingkat kabupaten (afdeeling) yang berada di bawah naungan Karesidenan Kediri. Saat itu, wilayah administratif Berbek mencakup empat bagian utama: Berbek, Godean, Kertosono, dan Nganjuk.
Menariknya, ketiga wilayah awal (Berbek, Godean, dan Kertosono) berada dalam pengaruh Kesultanan Yogyakarta yang telah dikuasai oleh Belanda, sedangkan Nganjuk merupakan bagian dari Kasunanan Surakarta. Walau begitu, Berbek tetap berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan dianggap sebagai ibu kota pertama dari cikal bakal Kabupaten Nganjuk.
Kenapa Pusat Pemerintahan Dipindahkan ke Nganjuk?
Pada masa kolonial, posisi geografis ibu kota sangat menentukan keberhasilan pemerintahan daerah. Lokasi yang sulit diakses atau terisolasi akan menghambat pertumbuhan wilayah tersebut.
Hal inilah yang menjadi tantangan utama bagi Berbek, karena wilayah ini dikelilingi oleh pegunungan seperti Gunung Pandan, Wilis, dan Kendeng, serta terletak di lereng Gunung Wilis, menjadikannya kurang strategis sebagai pusat administrasi.
Akhirnya, pada tahun 1880 M, atas usulan dan keputusan Bupati Sosrokoesoemo III, pusat pemerintahan resmi dipindahkan dari Berbek ke Nganjuk. Ada tiga alasan utama yang mendasari perpindahan ini:
- Kondisi geografis Berbek yang kurang mendukung perkembangan pemerintahan.
- Kepercayaan masyarakat Jawa, yang menganggap Berbek bukan tempat yang cocok sebagai pusat kekuasaan.
- Transisi kekuasaan di masa kepemimpinan Sosrokoesoemo III, di mana pertimbangan praktis dan strategis mulai lebih dikedepankan. Salah satunya karena Nganjuk sudah dilengkapi dengan infrastruktur penting seperti stasiun kereta api, yang kala itu sangat memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan aksesibilitas wilayah.
Editor : Miko