Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Lifestyle Seni & Budaya Opini Khazanah Video

Layangan Penuhi Langit Nganjuk di Musim Kemarau, Jadi Hobi Warga Kota Angin

Novanda Nirwana • Minggu, 17 Agustus 2025 | 18:30 WIB

LAGI NGETREN: Anak-anak Kelurahan Kapas, Kecamatan Sukomoro bermain layang-layang di lapangan desa kemarin.
LAGI NGETREN: Anak-anak Kelurahan Kapas, Kecamatan Sukomoro bermain layang-layang di lapangan desa kemarin.

Melihat Hobi Bermain Layang-layang di Kota Angin

Kabupaten Nganjuk memiliki sebutan kota yang cukup unik. Yaitu Kota Angin. Nama itu diberikan bukan tanpa sebab. Karena sehari-hari angin di Nganjuk berhembus dengan kencang. Kondisi itu ternyata banyak dimanfaatkan oleh warga lokal. Salah satunya adalah dengan bermain laying-layang.

ADA pemandangan unik setiap musim kemarau di Kabupaten Nganjuk. Yaitu langit yang dipenuhi dengan layang-layang atau yang biasa disebut dengan layangan. Permainan anak-anak itu kembali marak dilakukan oleh masyarakat Nganjuk. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Baca Juga: Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk Gelar Gerakan Pengendalian OPT Serentak

Umumnya kegiatan itu dilakukan setiap sore hari. Mulai dari pukul 15.00 WIB hingga maghrib. Lokasinya mulai dari halaman rumah, lapangan, hingga area persawahan.

Bermain layang-layang menjadi hobi anak-anak Kota Angin di musim kemarau.
Bermain layang-layang menjadi hobi anak-anak Kota Angin di musim kemarau.

Ternyata permainan layang-layang itu membawa berkah bagi sebagian orang. Salah satunya adalah Lita, 30, seorang penjual layang-layang. Warga Kelurahan Kapas, Kecamatan Sukomoro itu mengatakan layang-layang yang dia jual mulai ramai dibeli sejak beberapa minggu lalu. “Awalnya sebelum Lebaran saya jualan, itu belum terlalu ramai. Nah, puncaknya itu pas liburan kemarin,” ujar Lita sambil merapikan layangan di lapak kecilnya.

Baca Juga: Rekomendasi Sayuran yang Mudah Ditanam di Rumah

Harga yang dia tawarkan bervariasi. Mulai Rp2 ribu untuk ukuran standar hingga Rp20 ribu untuk layangan kelas turnamen. Sekilas ukurannya sama, tapi kualitas lilitan benang, jenis stabilo, hingga kekuatan arkun menjadi pembeda. “Kalau yang turnamen itu memang bagus, karena stabilonya beda,” jelasnya.

HIBURAN SORE HARI: Bermain layang-layang setiap sore hari menjadi rutinitas anak-anak di Kelurahan Kapas, Sukomoro setelah mengaji.
HIBURAN SORE HARI: Bermain layang-layang setiap sore hari menjadi rutinitas anak-anak di Kelurahan Kapas, Sukomoro setelah mengaji.

Meski terlihat laris, Lita mengaku belum memproduksi sendiri. Semua stok diambil dari agen di Kabupaten Ponorogo. Motif yang dijual pun mengikuti tren, mulai merah putih, sukoi, hingga yang kini tengah viral, brand Warok Ponorogo bergambar reog.  “Lilitannya full, arkunnya bagus. Ini aja melonjak harganya, dari Rp 3 ribu sekarang Rp 6 ribu,” ungkapnya.

Baca Juga: Hobi Mendaki Gunung? Ini 5 Rekomendasi Sepatu Gunung yang Bagus dan Terjangkau

Kenaikan harga ini bukan tanpa sebab. Pasokan dari produsen dibatasi, membuat Lita tak bisa kulakan dalam jumlah banyak. “Biasanya bisa bawa 500 sampai seribu pics, tapi sekarang cuma 300-an. Kan ya biaya akomodasinya juga ngga cukup,” keluhnya. (nov/wib)

 

Editor : Miko
#layangan #warga #nganjuk #layang layang #musim kemarau #KOTA ANGIN #hobi