NGANJUK, JP Radar Nganjuk – Saweran menjadi fenomena baru di karnaval. Karena itu, setiap peserta karnaval selalu menggunakan jasa dancer dan sound. Dancer yang ditampilkan tidak hanya dancer lokal desa tetapi hingga luar kecamatan atau luar Kota Angin. “Saya ngebon dua dancer dari luar desa,” ujar Yustin, 40, warga Desa Drenges, Kecamatan Kertosono.
Dancer tersebut mendapat bayaran berbeda. “Saya budgetkan Rp 2 juta untuk dua dancer,” ujar Yustin.
Ternyata, selain mendapat uang dari penyewa, dancer juga memperoleh uang tambahan. Uang ini yang diburu mereka. Karena nominalnya lebih besar dari yang diberikan penyewanya. “Bisa dapat Rp 5 juta saat saweran,” ujar Amel, 19, dancer asal Tulungagung.
Uang jutaan rupiah tersebut didapat Amel saat dia tampil di sepanjang jalan. Penonton akan menyawer setiap dia bergoyang. “Kalau di Malang dan Blitar itu sawerannya rata-rata biru (Rp 50 ribu, red),” ujarnya.
Baca Juga: Karnaval Desa Drenges Nganjuk, Warga Sewa Dancer Viral demi Meriahkan HUT RI
Berbeda dengan Nganjuk, di Kota Angin, Amel mengaku mendapat saweran lebih sedikit. Mulai dari Rp 2 ribu hingga Rp 100 ribu. Uang tersebut dipegang dancer saat berjoget di sepanjang rute karnaval.
Hal senada diungkapkan Anggun, 18, dancer asal Kabupaten Nganjuk. Setiap tampil di karnaval, cewek yang masih duduk di bangku SMK ini mendapatkan uang saweran ratusan ribu. “Rata-rata Rp 500 ribu,” ujarnya.
Anggun mengaku meski mengharapkan saweran tetapi dia pilih-pilih. Tidak semua orang yang mau menyawer diterima. Dia akan melihat wajahnya penonton terlebih dulu. “Jika terlihat mesum, saya akan menghindar dan tidak terima saweran,” ujarnya.
Baca Juga: Baru Bebas Tujuh Hari, Masuk Penjara Lagi
Menurut Anggun, sebagai dancer, dia harus siap dengan segala sesuatu di lapangan. Dia bekerja secara profesional. Meski hujan dan panas, dia akan tampil sesuai dengan job yang telah disepakati. Karena itu, saat menerima saweran, dia juga bertindak profesional. Dia tidak mau menyakiti hati penyawer. “Jika sudah terlihat gelagat mukanya muka mesum. Daripada mood saya jadi jelek, saya pilih tidak menerima sawerannya,” ungkapnya. (nov/tyo)
Editor : Miko