NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Jalan Pace-Sukomoro bergelombang dan berlubang. Yang paling parah ada di memasuki area persawahan yang berada di Desa Nglaban, Kecamatan Loceret. Meski jalan tersebut sudah beraspal, namun kondisinya bergelombang dan berlubang. Kondisi ini sangat membahayakan pengendara motor yang melintas jalan tersebut. “Kondisi jalan bergelombang dan berlubang ini sudah lama tetapi belum diperbaiki,” keluh Suwandi, salah satu pengendara sepeda motor yang melintas di jalan tersebut.
Kepada wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk, laki-laki berusia 45 tahun ini mengatakan, setiap hari melewati jalan tersebut untuk berangkat kerja. Dari rumahnya yang berada di Kecamatan Pace jalan tersebut paling dekat untuk menuju arah ke kantornya. “Semoga segera diperbaiki, soalnya disini juga sering ada kecelakaan tunggal karena jalannya rusak,” imbuhnya.
Dari pengamatan yang dilakukan, mulai pukul 16.00 hingga pukul 17.00 WIB Jalan Pace-Sukomoro tersebut termasuk padat kendaraan yang lewat. Baik dari arah Pace atau Sukomoro, jalan sepanjang 650 meter itu tidak hanya roda dua, namun juga mobil, pikap, hingga truk.
Baca Juga: Saweran Dancer di Karnaval Bisa Tembus Rp 5 Juta
Jalan tersebut membahayakan pengguna jalan yang melintas di sana. Melihat jalan yang bergelombang, baik pengendara sepeda motor ataupun mobil berusaha mencari jalan yang mulus. Pengendara sepeda motor mengambil tepi jalan. Sedangkan pengemudi mobil memilih jalan yang seharusnya untuk kendaraan dari arah sebaliknya.
Sedangkan kendaraan yang nekat menerobos jalan tersebut banyak yang oleng. Bahkan hampir mengalami kecelakaan tunggal karena selip. Tidak hanya bergelombang, namun banyak sekali yang berlubang. Sepanjang jalan tersebut, setidaknya ada sepuluh lubang jalan dengan berbagai ukuran.
Kondisi lubang tersebut membuat pengendara sepeda kayuh sampai rela turun dari sepedanya. “Daripada saya jatuh lebih baik saya tuntun saja mbak sepedanya,” ujar Martiyem, pengguna jalan yang saat itu melintas.
Baca Juga: PAK APBD 2025 Terancam Molor
Perempuan yang kini berusia 50 tahun asal Sukomoro ini harus menuntun sepeda mulai. Sehingga Martiyem harus 1 kilometer untuk menuntun sepedanya hingga sampai ke jalan yang sudah mulus. Hal ini dilakukannya setiap hari baik saat menuju lokasi sawah tempatnya bekerja, dan saat pulang ke rumah.
Meski berada di area persawahan, jalan tersebut tidak hanya dilewati petani. Ada pekerja kantoran, hingga pelajar yang melewati jalan tersebut. (ara/tyo)
Editor : Miko