Sepi Pengunjung, Pedagang Ikan & Kuliner di Bendungan Baduk Terancam Gulung Tikar
Habibah Anisa M.• Jumat, 29 Agustus 2025 | 22:43 WIB
OMZET ANJLOK: Penjual ikan segar di sekitar Bendungan Baduk resah karena sepi pembeli.
Pedagang Ikan dan Kuliner di Bendungan Baduk saat Efisiensi Anggaran
Pedagang ikan segar dan kuliner di Bendungan Baduk resah. Pengunjung semakin hari semakin sepi. Akibatnya, pembeli di warung kuliner dan pasar ikan juga sepi. Bahkan saat libur, tempat wisata kuliner yang berada di Desa Sumberkepuh, Kecamatan Tanjunganom ini hanya dikunjungi beberapa orang. Omzet pedagang pun terjun bebas.
“Libur Agustusan yang biasanya ramai, tahun ini sangat sepi pengunjung,” keluh Ainun Jariyah, salah satu pemilik salah satu usaha kuliner. Kepada wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk, Ainun yang sudah lama berjualan kuliner diBendungan Baduk, mengaku kaget dengan sepinya pengunjung. Sejak jualan tahun 2022, baru tahun ini, dia merasakan sepinya pembeli. Karena sepinya pembeli, pendapatan rata-rata dalam satu hari sekitar Rp 500 ribu. Padahal, tahun lalu, di hari biasa biasa, omzetnya masih mencapai Rp 1 juta hingga 1,5 juta.
Berkurangnya pembeli ini dirasakan setelah Lebaran Idul Fitri pada tahun ini. Saat liburan panjang, dalam satu hari bisa mendapatkan Rp 2,5 juta. Namun, hal itu tidak lagi didapat. Sepinya pengunjung ini membuat perempuan berusia 52 tahun ini tidak berani menyetok ikan segar dengan jumlah banyak.
Padahal, tahun lalu, saat ada long weekend atau libur panjang, Ainun menyiapkan 40 kilogram wader, 40 kilogram gurame, 35 kilogram belut. Bahkan ketika stok yang disiapkannya habis, langsung menelpon atau membeli di pasar ikan yang masih satu lokasi.
Karena kondisi sepi, kini dalam satu minggu Ainun hanya menyetok ikan belut 6 kilogram, ikan gurami 5 kilogram, ikan nila sebanyak 8 hingga 10 kilogram, udang 6 kilogram, dan ikan wader 10 kilogram. “Untuk belut kalau musim hujan ambil dari warga sini,” kata Ainun.
Sepinya pembeli juga dirasakan oleh ibu-ibu yang berjualan ikan segar. Salah satunya adalah Asniyah. Perempuan yang sudah berjualan ikan sungai selama 20 tahun ini mengaku dalam satu hari hanya laku 1-2 kilogram ikan. “Sepi ini penjualan, ikan juga sedang susah carinya,” ujarnya.
Di lapak perempuan berusia 40 tahun ini, belut dijual Rp 80 ribu per kilogram, ikan bader dijual Rp 20 kilogram, dan ikan gabus dijual Rp 60 per kilogram. Ikan yang dijualnya tidak hanya dari sungai setempat, namun juga ada yang berasal dari luar kota. Bahkan belut yang dijualnya merupakan kiriman dari Bali dan Kalimantan. (ara/tyo)