NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Petani cabai di Kabupaten Nganjuk waswas. Penyebabnya, hujan yang tidak menentu. Sehingga, tanam cabai yang biasanya dilakukan pada Juli 2025 molor. "Harusnya Juli sudah tanam cabai, sekarang baru mulai," ujar Wakid, petani cabai di Desa Pacewetan, Kecamatan Pace.
Kepada wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk, laki-laki yang kini berusia 53 tahun ini menjelaskan alasan kenapa tidak menanam sesuai dengan jadwal tanam di bulan Juli. Hal tersebut dikarenakan pada bulan tersebut curah hujan cukup tinggi.
Sedangkan, cabai adalah salah satu tanaman hortikultura yang rentan terhadap air. “Karena curah hujan tinggi di Bulan Juli, jadi tanamnya mundur,” imbuhnya.
Sebelum ditanami bibit cabai seperti saat ini, Wakid bersama dengan istri sebenarnya sempat menanami lahan seluas 75 ru itu dengan tanaman padi. Namun karena hasilnya kurang bagus, lahan tersebut sempat tidak ditanami.
Baca Juga: Meski Turun Harga Bawang Merah Masih Menguntungkan Petani
Sudah sekitar 25 tahun menjadi petani cabai merah, kali ini suami istri ini menanam sebanyak 350 bibit cabai merah besar. Untuk menunggu besar dan berbuah mereka menunggu waktu sekitar tiga bulan.
Meski kondisi saat ini sedang kemarau cocok untuk tanaman cabai. Namun Wakid merasa khawatir untuk kondisi ke depannya. Berdasarkan prediksi cuaca oleh BMKG Sawahan Nganjuk bahwa memasuki bulan September ini mulai ada curah hujan. Meski tidak merata. “Kalau musim hujan tanaman cabai ini rentan terkena penyakit sebuk, ada putih-putih di tanaman,” kata Wakid.
Dampak penyakit sebuk ini dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Karena terganggu proses pertumbuhannya membuat tanaman tidak bisa berbuah. Dan potensi terjadinya gagal panen.
Meski sempat khawatir, Wakid dan istrinya Khasanah tetap positif thinking jika akan berhasil panen. Sebab dibandingkan dengan daerah lain di Kabupaten Nganjuk, wilayahnya memang jarang hujan. “Prediksi awal panen nanti diawali lima kilogram, kemudian naik terus hingga 10 kuintal,” ujarnya.
Sementara itu, Kabid Produksi dan Perizinan Dinas Pertanian Nganjuk Fadlin Nuryani mengatakan, petani cabai sudah mulai menanam. "Sampai saat ini lahan cabai yang sudah ditanami seluas 60 hektare," ujarnya. (ara/tyo)
Editor : Jauhar Yohanis