NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Petani yang nekat menanam padi saat musim kemarau mulai merasakan dampaknya. Kemarin, petani kesulitan untuk irigasi. Hujan yang sangat jarang turun membuat tanaman padi terancam mati. "Harus pakai diesel untuk pengairan jadinya," ujar Suradi, petani padi asal Kelurahan Kramat, Kecamatan Nganjuk.
Petani berusia 66 tahun ini mengatakan, lokasi lahan sawah mereka jauh dari saluran irigasi. Sehingga penggunaan diesel ini menjadi salah satu solusinya. “Kami menggunakan diesel bergantian karena semuanya membutuhkan,” imbuhnya.
Baca Juga: Petani Menanam Padi saat Kemarau. Mengapa Bukan Jagung?
Suradi mengatakan, jika ia mulai mengairi sawahnya ketika kondisi lahan sudah mengering.
Butuh waktu 12 jam untuk mengairi sawah seluas 200 ru. Selain bermasalah dengan pengairan, tanaman padi yang ditanam oleh Suradi juga diserang hama dan penyakit.
Padi yang ditanam pada 1 Agustus ini diserang hama dan penyakit. Daun muda padi yang terkena hama ini membuat daun muda tidak bisa berkembang. Kemudian, layu dan akhirnya mati.
Sementara itu, Fadlin Nuryani, Kabid Produksi dan Perizinan Dinas Pertanian Nganjuk mengatakan, menanam padi di musim kemarau sangat berisiko. Karena padi butuh banyak air. Sedangkan, kemarau, hujan sangat jarang. “Itu risiko menanam padi di musim kemarau," tandasnya.
Baca Juga: Apa Itu Wereng yang Mengancam Petani? Kenali Hama Kecil Penyebab Gagal Panen Padi
Fadlin mengatakan, tanaman padi ditanam secara merata di semua kecamatan di Kabupaten Nganjuk. Salah satu paling besar berada di Kecamatan Tanjunganom. Di sana luas tanam ada sekitar 10.000 hektare. (ara/tyo)
Editor : Miko