Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Buat Ogoh-Ogoh Spesial untuk Meriahkan Karnaval Desa

Novanda Nirwana • Minggu, 7 September 2025 | 22:00 WIB

SERAM: Ogoh-ogoh Kelurahan Banaran bikin penonton karnaval terpukau.
SERAM: Ogoh-ogoh Kelurahan Banaran bikin penonton karnaval terpukau.

Melihat Kekompakan Warga Kelurahan Banaran, Kecamatan Kertosono

Warga di RW 7, Kelurahan Banaran, Kecamatan Kertosono memiliki cara yang unik untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke 80. Yaitu dengan membuat ogoh-ogoh. Ya, patung yang biasa dibuat oleh umat Hindu itu dibuat khusus untuk dipamerkan dalam karnaval.

SUASANA berbeda terlihat di RW 7, Desa Banaran, Kecamatan Kertosono. Sejak Juli lalu, halaman rumah warga berubah menjadi bengkel kerja. Sejumlah pemuda dan bapak-bapak terlihat sibuk bekerja. Mulai dari memotong bambu, melilit kertas, hingga membentuk sebuah rangka besar yang terbuat dari anyaman bambu.

KREATIF: Warga Kelurahan Banaran membuat rangka ogoh-ogoh.
KREATIF: Warga Kelurahan Banaran membuat rangka ogoh-ogoh.

Semua itu dilakukan untuk satu tujuan. Yakni menyiapkan ogoh-ogoh raksasa yang akan ditampilkan dalam karnaval di acara Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke 80.

Warga tidak membuat ogoh-ogoh secara asal-asalan. Sebaliknya, ogoh-ogoh dibuat dengan sangat megah. Tingginya mencapai 4,5 meter. Sedangkan lebarnya mencapai 3,5 meter. “Kalau yang sebesar ini baru dibuat di tahun ini. Tahun lalu juga pernah bikin, tapi ukurannya lebih kecil,” ujar Dian Permana, 28, salah satu pembuat ogoh-ogoh di Desa Banaran.

Menurut Dian, proses pembuatan dimulai dari sketsa gambar. Konsep dan inspirasi dicari dari Pinterest, lalu disesuaikan dengan kemampuan warga.  “Awalnya bikin sketsa dulu, terus dibagi tugas. Ada yang sore motong bambu, malam lanjut karena ada yang baru pulang kerja. Kadang sampai jam 1–2 dini hari,” ujarnya.

Proses pengerjaan dilakukan secara gotong royong oleh sekitar 10 orang. Mereka bukan seniman atau perajin, melainkan warga biasa yang belajar secara otodidak. Meski penuh tantangan, semangat kebersamaan warga membuat pekerjaan terasa ringan. “Paling sulit bikin jari tangan, kaki, dan wajah. Itu yang makan waktu paling lama,” tambah Dian. (nov/wib)

Editor : Miko
#kertosono #spesial #banaran #ogoh ogoh #karnaval