Buang Sampah di Sungai dan Jalan hingga Membakar Sembarangan
Habibah Anisa M.• Minggu, 7 September 2025 | 19:30 WIB
BIKIN POLUSI: Warga membuang sampah di tepi Jalan Raya Sukomoro - Kecubung.
Kebersihan Jadi Problem Kabupaten Nganjuk
Pengelolaan sampah di Kabupaten Nganjuk masih menjadi problem utama. Hal tersebut dapat dilihat dari cara mereka mengolah sampah. Ada yang membuang sampah di sungai, jalan, mengubur di halaman, dan membakarnya.
Perwajahan Kabupaten Nganjuk menjadi buruk karena pengolahan sampah di masyarakat yang kurang tepat. Bagaimana tidak jika sejauh mata memandang, baik di jalan pedesaan ataupun jalan besar akan mendapati pemandangan yang tidak sedap. Benar tumpukan sampah.
Tidak hanya di tepi jalan, sampah tersebut bahkan juga ada di aliran irigasi atau sungai. Dimana tempat-tempat tersebut seharusnya menjadi tempat zero plastik. “Orang disini sampahnya ada yang di bakar ada juga yang dibuang di sungai,” terang Tarmini salah satu warga desa di Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk.
Mereka membakar sampah bikin polusi udara yang bisa mengganggu kesehatan masyarakat.
Kepada wartawan Jawa Pos Radar Kediri, perempuan yang kini berusia 35 tahun ini menjelaskan bahwa di desanya tersebut kebiasaan mengolah sampah awalnya dengan menggali lubang di belakang rumah. Mereka yang membuang sampah di joglangan ini kebanyakan masih memiliki lahan di belakang rumahnya. “Lubang di belakang rumah itu sudah ada sebelum saya pindah di sini,” imbuhnya.
Galian untuk dijadikan setiap rumah berbeda. Tergantung dengan luas lahan yang mereka miliki. Di rumah Tarmini mengatakan,
di galian tersebut ia membuang semua jenis sampah. Mulai dari sisa limbah makanan, sampah rumah tangga berupa plastik, hingga sampah dari dedaunan. “Kalau sekarang hanya digunakan untuk tempat membuang daun,” ungkap ibu dari dua anak tersebut.
Alasan kenapa ia tidak membuang sampah di galian tersebut, karena saat ini sudah ada petugas sampah yang mengambil di rumahnya. Langganan pengambilan sampah itu baru ada pada tahun ini. Dimana biaya langganan satu bulan Rp 15 ribu. Namun jika sampah yang dibuang dianggap terlalu banyak, ia akan membayar Rp 20 ribu.
PENYEBAB UTAMA BANJIR: Sampah dan rumpun bambu yang dibuang di sungai membuat air sungai meluap saat musim hujan.
Jika istri dari Sujatmoko ini beralih ke pengambil sampah dengan membayar langganan. Warga lain memilih untuk membakar sampah mereka. Mereka menganggap dengan membakar sampah akan membuat sampah itu akan habis tidak tersisa. “Sampah di sini dibakar mbak, karena galiannya sudah penuh,” ukap Norman warga lainya.
Tidak heran jika di desa tersebut terlihat banyak sekali bekas bakaran. Ada yang di pekarangan depan rumah ada juga di belakang rumah. Alasan laki-laki salah satu di desa yang berada di Kecamatan Pace. Selain dibakar, ada juga yang hanya membuang di pinggir jalan. “Nanti biasanya diangkut sama tukang rosok,” imbuhnya.
Laki-laki berusia 40 tahun ini mengatakan, di desanya tidak ada tempat pembuangan sampah sementara. Jadi salah satunya cara mengolah sampah dengan cara membakar. Karena rata-rata warga melakukan tersebut, sehingga tidak ada yang protes terkait asap dari pembakaran sampah. (ara/tyo)