Dobrak Pakem untuk Memikat Generasi Muda Kabupaten Nganjuk
Novanda Nirwana• Senin, 29 September 2025 | 22:00 WIB
KREATIF: Pertunjukan wayang kulit yang diiringi musik instrumental masa kini untuk memikat generasi muda.
Melihat Pertunjukan Wayang Kulit Masa Kini di Kota Angin
Anak-anak muda di Kabupaten Nganjuk memiliki cara untuk melestarikan wayang kulit agar tidak punah. Salah satunya dengan memadukan wayang kulit dengan seni musik modern. Wayang kulit yang biasanya diiringi dengan tembang jawa diubah dengan musik instrumental masa kini.
BAGI sebagian orang, wayang kulit selalu identik dengan seni pertunjukan yang mayoritas penampilannya menggunakan Bahasa Jawa. Entah itu dari cerita yang dibawakan oleh dalang atau musik yang dibawakan. Namun anak-anak muda di Kabupaten Nganjuk ini mencoba mendobrak pakem tersebut. Lewat pertunjukan bertajuk “Party Kelir”, Joko Pranowo dkk mencoba menggabungkan wayang kulit dengan musik yang lebih modern. Anak-anak muda itu adalah Joko Adi Pranowo sebagai dalang, Baiu Progress sebagai pemain bass, Abimanyu sebagai instrumen, Laminan sebagai narrator, Gur Dirgan sebagai artistic, dan Arya Mamba sebagai pimpinan acara. Pertunjukan Party Kelir itu diadakan di sebuah kafe yang berada di Kelurahan Bogo, Kecamatan Nganjuk.
Pengiring wayang kulit masa kini menyiapkan lagu dan musik sebelum tampil.
Joko menjelaskan, ide Party Kelir muncul beberapa waktu lalu. Dia bersama kelima temannya memang kerap kali kumpul hanya sekadar ngopi. Namun dari obrolan tersebut menculah sebuah gagasan. “Berangkat dari keresahan teman-teman melihat Indonesia sedang kisruh demo, akhirnya kita mikir gimana menyampaikan aspirasi tanpa fomo,” ujar Joko. Menurut pemuda asal Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Ngetos itu, nama Party Kelir berarti “pesta dunia”. Cerita yang dibawakan memang bersumber dari Mahabarata dengan lakon Bale Segoro-Goro. Yakni perebutan tahta antara Kurawa dan Pandawa. Namun agar lebih mudah dipahami penonton, alurnya dirombak. “Awalnya lakonnya Tahta Buta Membara. Terus saya ganti jadi Bara Tahta Buta. Saya ubah ke bahasa Indonesia dan disisipkan isu-isu terkini,” jelasnya.
EVALUASI: Joko Adi Pranowo, sebagai dalang (empat dari kiri) selalu mengajak diskusi setelah pertunjukan wayang kulit masa kini.
Latihan untuk pementasan ini dimulai sejak Agustus. Meski sempat terhenti karena kesibukan masing-masing personel. Namun intensitas persiapan meningkat menjelang hari-H. “Total sekitar sepuluh kali latihan. Dua minggu terakhir baru padat,” kata Joko. Konsep yang mereka usung jelas berbeda. Alih-alih gamelan, musik latarnya justru diisi dengan permainan bass, instrumen modern, serta narasi ringan yang dibawakan Laminan. Visual artistik juga diolah agar penonton tidak hanya menonton wayang, tapi menikmati perpaduan seni lintas bidang. “Pertama kalinya ada di Nganjuk dengan konsep seperti ini. Harapannya, wayang bisa dekat lagi dengan anak muda,” pungkasnya. (nov/wib)