Iringan Musik Jadi PR Paling Sulit

Novanda Nirwana • Dipublikasikan Senin, 29 September 2025 | 22:00 WIB
SELARAS: Musik modern mengiringi pertunjukan wayang kulit.
SELARAS: Musik modern mengiringi pertunjukan wayang kulit.

PENAMPILAN Party Kelir tidak dibuat dengan mudah. Sebaliknya, penampilan yang dilakukan oleh Joko Adi Pranowo itu dilakukan dengan susah payah. Banyak latihan dan revisi yang harus mereka lakukan. Terutama pada bagian iringan musik.
Dalang sekaligus penulis naskah, Joko Adi Pranowo, menyebut setelah naskah rampung, tantangan baru muncul. “Setelah naskahnya jadi itu bikin iringan. Yang bikin rumit itu iringannya. Beberapa kali ada revisi karena tidak pas sama suasana,” ujar Joko.
Menurut Joko, proses pembuatan iringan tidak bisa instan. Musik harus dirancang, dimainkan, lalu dicocokkan dengan alur cerita dan emosi tiap adegan. Tidak jarang, hasil yang sudah dibuat harus dibongkar lagi. “Akhirnya iringan dibuat dulu, dicoba dimainkan, baru diputuskan cocok atau tidak. Kalau pas, baru dinamai,” jelasnya.
Dari proses panjang itu lahirlah beberapa karya musik unik. Misalnya, komposisi Sengkuni of Stakato, yang khusus dimainkan saat tokoh Sengkuni muncul. Selain itu, ada aransemen DJ Anggur Merah, yang dipasang di adegan pesta antara Pandawa dan Kurawa. “Itu khasnya Party Kelir. Musiknya nyeleneh, tapi justru bikin unik,” tambah Joko.
Kesulitan makin terasa saat menyinkronkan gerak wayang dengan musik mellow. Wayang, menurut Joko, punya kebutuhan iringan yang ritmis. Sedangkan musik mellow seringkali tidak sinkron dengan tempo wayang. “Rumitnya itu nyingkronkan wayang yang butuh iringannya sama dengan musik-musik mellow. Jadi agak sulit, butuh uji coba berulang,” tuturnya.
Bahasa yang dipakai dalam pertunjukan juga menjadi pertimbangan khusus. Seluruh alur cerita dibawakan dalam bahasa Indonesia, kecuali di adegan goro-goro yang sengaja menggunakan bahasa Jawa. “Supaya lebih mudah saya berinteraksi dengan penonton pada adegan itu,” jelasnya.
Tidak berhenti sampai di situ, eksplorasi musik juga sampai ke ranah eksperimental. Beberapa instrumen diambil dari frekuensi tumbuhan. Prosesnya, suara dari tumbuhan direkam lalu diolah hingga menjadi instrumen pendukung. “Itu yang bikin prosesnya panjang, tapi hasilnya beda dari biasanya. Jadi ada warna baru,” ujar Joko.
Latihan yang dimulai sejak awal Agustus pun kerap tersendat. Masing-masing personel dari pemain bass, narator, hingga artistic punya kesibukan sendiri. Baru dua minggu menjelang pertunjukan, intensitas latihan meningkat drastis. Dalam periode singkat itu, mereka bisa menggelar hingga sepuluh kali latihan. “Kami sampai ngga ada gladi resik soalnya hujan waktu itu, tapi hasilnya diluar ekspetasi,” pungkasnya. (nov/wib)

Editor : Karen Wibi
modern nganjuk wayang kulit budaya