Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Ini Kisah Agustina Heni Praptiwi. Menjadi Tempat Curhat Warga Binaan di Rutan Kelas IIB Nganjuk

Novanda Nirwana • Kamis, 2 Oktober 2025 | 21:18 WIB

DEKAT DENGAN WARGA BINAAN: Agustina Heni Praptiwi di kantin Rutan Kelas IIB Nganjuk.
DEKAT DENGAN WARGA BINAAN: Agustina Heni Praptiwi di kantin Rutan Kelas IIB Nganjuk.

Agustina Heni Praptiwi, Petugas Perempuan Rutan Kelas IIB Nganjuk

Di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Nganjuk, ada sudut kecil yang selalu ramai. Tempat itu adalah kantin warga binaan. Di sana, Agustina Heni Supraptiwi tampak duduk santai sambil sesekali tersenyum. Bukan sekadar mengawasi, Tina ikut membaur, memberi arahan bagaimana melayani dengan ramah, mengatur stok, hingga menata dagangan.

NOVANDA NIRWANA-NGANJUK, JP Radar Nganjuk

Agustina Heni Supraptiwi, petugas bidang usaha di Rutan Kelas IIB Nganjuk, sudah 33 tahun mengabdikan diri sebagai petugas pemasyarakatan. Perjalanan panjang itu penuh dengan suka dan duka, hingga cerita yang kadang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Perempuan asli Tanjunganom itu mengawali kariernya pada 1992. Lulus SMA, dia langsung mendaftar dan ditempatkan di Rutan Kelas I Medaeng, Surabaya. “Waktu itu saya ditempatkan di bagian urusan perkantoran (UP), keluar masuk surat. Dari sana saya belajar banyak,” kenangnya.

Lima tahun di Medaeng, pada 1998, Tina pindah ke Rutan Nganjuk. Mulai dari pelayanan tahanan, tata usaha, hingga kini dipercaya di staf keamanan, hampir semua lini pernah ia jalani.

Sebagai petugas perempuan, Tina mengaku sering menjadi tempat curhat para warga binaan. “Mereka sering cerita masalah pribadi, kadang seperti curhat ke ibunya sendiri. Saya kasih wejangan juga, kenapa mereka bisa sampai masuk ke sini,” ujar Tina.

Namun, tidak selalu cerita manis. Ada juga momen berat. Terutama ketika menghadapi warga binaan perempuan yang tengah hamil. “Itu bebannya lebih berat,” katanya. Tak jarang pula ia harus melerai pertengkaran kecil antarwarga binaan, biasanya hanya soal sepele seperti bersih-bersih.

Meski begitu, ada rasa haru yang selalu membekas. Saat masa tahanan habis, banyak dari mereka yang pamit dan meminta maaf. “Saya selalu pesan, jangan balik lagi ke sini. Kalau bisa, jalani hidup lebih baik,” ungkapnya.

Uniknya, hubungan baik dengan warga binaan tidak berhenti di situ saja. Beberapa masih sering menghubunginya, bahkan ada yang mengajak makan bersama atau sekadar menyapa ketika bertemu di jalan. “Ada juga yang main ke rumah. Saya senang mereka masih ingat saya, berarti hubungan selama di dalam terjalin dengan baik,” kata Tina.

Baginya, suka duka sebagai petugas pemasyarakatan adalah perjalanan yang tak ternilai. “Senangnya bisa mengayomi, bisa kumpul dan memberi arahan. Susahnya pasti ada, tapi semua jadi bagian dari pengalaman berharga,” pungkasnya. (tyo)

Editor : Karen Wibi
#rutan #nganjuk #curhat #teman