Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Bukan untuk Guyonan karena Berisi Pilar untuk Bekal Berumah Tangga 

Habibah Anisa M. • Senin, 13 Oktober 2025 | 16:16 WIB

tepuk sakinah
tepuk sakinah

Memahami Tepuk Sakinah untuk Calon Pengantin

Tepuk Sakinah mendadak viral di media sosial. Banyak orang yang melakukan Tepuk Sakinah. Namun demikian, Tepuk Sakinah ini bukan sebuah guyonan. Karena makna mendalam ada di dalam tepuk ini. Calon pengantin wajib mempraktikan sebelum mereka melakukan ijab kabul. 

 

Berpasangan, berpasangan, berpasangan. 

Janji kokoh, janji kokoh, janji kokoh. 

Saling cinta, saling hormat, saling jaga, saling ridha.

Musyawarah untuk sakinah.

Suara calon pasangan suami istri itu menggema di ruangan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Nganjuk pada Kamis (9/10). Sambil bernyanyi, calon pasutri itu melakukan tepuk. “Kami sedang melakukan Tepuk Sakinah,” ujar Kepala KUA Kecamatan Nganjuk Nur Hudha.

WUJUDKAN KELUARGA BERENCANA: Calon pengantin melakukan tepuk sakinah saat pembekalan di KUA Kecamatan Nganjuk.
WUJUDKAN KELUARGA BERENCANA: Calon pengantin melakukan tepuk sakinah saat pembekalan di KUA Kecamatan Nganjuk.

Tepuk Sakinah ini dilakukan setiap hari Kamis. Karena di hari itu, menjadi hari bimbingan perkawinan mandiri bagi calon pengantin di Kecamatan Nganjuk. “Tepuk sakinah ini liriknya berisikan tentang pilar dalam berumah tangga,” terang. 

Kepada wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk, laki-laki yang kerap disapa Hudha ini menjelaskan bahwa pilar dalam membina rumah tangga ini diberikan kepada calon pengantin ketika kegiatan bimbingan yang dilakukan di KUA. Karena memiliki makna, tentu saja itu bukan hanya sekedar sebuah hiburan saja. “Tepuk Sakinah sendiri sebenarnya adalah sebuah inovasi, agar lebih mudah paham tentang pilar rumah tangga,” imbuhnya. 

Kepala KUA asal Kecamatan Kertosono ini menjelaskan, bahwa pilar rumah tangga ini dimulai dari zawaj atau berpasangan. Berpasangan ini merupakan simbol penyatuan dua insan dalam ikatan yang diridhai oleh Allah SWT. Kemudian, yang kedua adalah Mitsaqan Ghaliza atau janji kokoh dalam pernikahan. 

Mitsaqan Ghaliza sendiri menjelaskan bahwa pernikahan itu tidak hanya sekadar kontrak sosial. Namun juga perjanjian spiritual yang kuat. 

Kemudian yang ketiga adalah Ma’ruf atau saling mencintai, menghormati, menjaga, dan berbuat baik satu sama lain. Keempat adalah musyawarah dalam pernikahan pasangan saling mencintai, menghormati, menjaga, dan berbuat baik satu sama lain. 

Calon pengantin mendapat sertifikat usai pembekalan pra nikah.
Calon pengantin mendapat sertifikat usai pembekalan pra nikah.

Dalam memberikan materi tentang pilar keluarga ini disampaikan dengan serius. Namun agar tidak tegang dan mudah untuk dimengerti, saat ice breaking dalam bimbingan perkawinan dilakukan Tepuk Sakinah. 

Tepuk Sakinah membuktikan bahwa dakwah dan edukasi bisa disampaikan dengan cara yang menyenangkan. Di balik gerakan dan irama yang ceria, tersimpan pesan mendalam tentang cinta, tanggung jawab, dan komitmen spiritual dalam pernikahan. “Dengan mengerti pilar rumah tangga, dapat menekan angka perceraian,” ungkap laki-laki yang kini berusia 56 tahun tersebut. 

Hudha meminta Tepuk Sakinah ini tidak dijadikan bahan guyonan. Terutama ketika proses ijab kabul berlangsung. Sebab nantinya akan merusak kesakralan sebuah pernikahan. Ia menyarankan agar tidak melakukan Tepuk Sakinah setelah mengucap ijab kabul. Karena hal tersebut tidak sesuai. 

Sementara itu, Naning Zulaikah, 28, warga Kelurahan Jatirejo, Kecamatan Nganjuk mengatakan, sebenarnya dia baru mengetahui makna dari Tepuk Sakinah setelah mengikuti bimbingan. “Sebelumnya hanya tahu di TikTok saja,” ujarnya. 

Naning mengatakan, makna di Tepuk Sakinah sangat mendalam. Karena di rumah tangga, tidak hanya mengandalkan cinta saja. “Harus saling menghormati dan musyawarah juga,” ujarnya. (ara/tyo)

 

 

Editor : Karen Wibi
#nganjuk #tepuk sakinah