NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Pladu atau flushing dilakukan di Bendungan Baduk yang berada di Kecamatan Tanjunganom kemarin (31/10). Sehingga, warga berebut mencari ikan di sana. Sayang, karena debit anak Sungai Brantas tinggi membuat warga tidak berani ke tengah sungai. “Takut tenggelam. Jadi cari ikan di tepi sungai saja,” ujar Sunarno, 51, warga Desa Malangsari, Kecamatan Tanjunganom.
Perlu diketahui, flushing atau pladu adalah kegiatan membuka pintu air di bendungan. Tujuannya adalah untuk membersihkan kotoran dan endapan yang berada di pintu air. Hal itu membuat ikan di sepanjang sungai jadi mabuk. Kondisi ikan mabuk itu yang dimanfaatkan oleh pencari ikan untuk menangkap ikan sebanyak-banyaknya.
Di tahun lalu, pladu yang dilakukan di Bendungan Baduk menjadi panen raya bagi pencari ikan. Sekitar 100 pencari ikan. Dalam hitungan jam saja mereka bisa mendapat ikan hingga belasan kilogram. Ikan-ikan itu lalu dijual. Para pencari ikan pun mampu mendapat untung hingga ratusan ribu.
Namun berbeda dengan tahun ini. Pencari ikan dalam acara pladu jumlahnya hanya puluhan orang. Bukan karena mereka tidak ingin mencari ikan, melainkan karena debit sungai masih tinggi. Karena sehari sebelumnya, Bendungan Baduk diguyur hujan deras. Akibatnya air meluap. Bahkan, meski pintu air sudah dibuka, debit air di Bendungan Baduk masih tetap tinggi. “Debit air di bendungan tidak mau turun. Tetap tinggi,” tambah pria yang usianya kini sudah 51 tahun itu.
Akibat hal itu, Sunarno memilih untuk hanya mencari ikan di tepi sungai. Padahal, di tahun lalu, dirinya berani mencari ikan hingga ke tengah sungai. Karena hanya mencari ikan di tepian, Sunarno tidak bisa mendapat banyak ikan. “Dari pagi sampai sekarang (Pukul 10.00 WIB, Red) hanya dapat satu kiloa saja,” imbuhnya.
Hal senada diungkapkan Bagio, 48, warga Desa Malangsari, Kecamatan Tanjunganom. Kemarin pagi, Bagio tidak berhasil menangkap banyak ikan. Namun dia tidak menyerah. Dia memilih untuk menunggu hingga debit air turun dan ikan mabuk ke tepi. “Besok saya akan cari ikan di sini lagi,” ujarnya. (wib/tyo)
Editor : Karen Wibi