Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Hutan Tritik Jadi Tempat Berkumpulnya Benda Purbakala dan Binatang Purba

Novanda Nirwana • Selasa, 4 November 2025 | 15:19 WIB

BARU: Museum Tritik di Kecamatan Rejoso sedang dibangun (foto kiri). Petugas melakukan eskavasi dilokasi penemuan fosil stegodon atau gajah purba di Hutan Tritik, Kecamatan Rejoso.
BARU: Museum Tritik di Kecamatan Rejoso sedang dibangun (foto kiri). Petugas melakukan eskavasi dilokasi penemuan fosil stegodon atau gajah purba di Hutan Tritik, Kecamatan Rejoso.

Melihat Jejak Peninggalan Prasejarah di Kabupaten Nganjuk

Kabupaten Nganjuk memiliki kekayaan prasejatah yang tak ternilai. Bahkan terakhir, di Desa Tritik, Kecamatan Rejoso, ditemukan sebuah fosil stegodon yang usianya ditafsir mencapai 800 ribu tahun. Sayang anggaran minim membuat pengelolaan benda-benda bersejarah jadi terkendala.

UPAYA pelestarian benda-benda bersejarah di Kabupaten Nganjuk terus diperkuat. Tiga museum plat merah yang sudah berdiri kini akan segera bertambah satu lagi. Pemerintah Kabupaten Nganjuk melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudparpora) tengah menyiapkan pendirian Museum Khusus Prasejarah Tritik yang dijadwalkan rampung dan diresmikan pada Desember mendatang.

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk Gunawan Widagdo melalui Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Amin Fuadi mengatakan bahwa sejauh ini ada tiga museum aktif di Kabupaten Nganjuk, yaitu Museum Anjuk Ladang (museum umum), Museum Panglima Besar Jenderal Soedirman, dan Museum dr. Soetomo. “Dalam waktu dekat akan bertambah satu museum lagi, yakni Museum Khusus Prasejarah Tritik yang kini sedang tahap penyelesaian akhir oleh pemerintah desa,” ujar Amin.

eskavasi
eskavasi

Menurutnya, pengelolaan museum di Nganjuk sudah berada pada tataran yang cukup baik. Sebab mendapatkan bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) Museum dan Taman Budaya. “Itu sangat membantu untuk menggerakkan kegiatan, terutama kegiatan publik seperti pameran dan edukasi,” jelasnya.

Amin menambahkan, tiga museum yang sudah ada merupakan museum plat merah atau dikelola oleh pemerintah daerah. Sedangkan untuk Museum Prasejarah Tritik, pengelolaannya akan dilakukan oleh pemerintah desa dengan tetap berada di bawah pengawasan dan bimbingan Disbudparpora.

“Komunitas sejarah di Nganjuk juga berperan aktif, sifatnya membantu secara koordinatif. Banyak dari mereka yang menemukan benda-benda cagar budaya lalu menyerahkannya ke museum,” imbuhnya.

Terkait pembangunan Museum Prasejarah Tritik, Amin mengungkapkan bahwa prosesnya sempat terhenti. Namun, berkat sinergi antara komunitas, pemerintah desa, dan Disbudparpora, proyek tersebut kini dapat diselesaikan. “Keterlibatan semua pihak akhirnya mendorong dinas terkait, terutama Dinas PMD, untuk mencairkan anggaran dan menambah bantuan keuangan khusus. Dengan begitu, pembangunan bisa tuntas tahun ini,” pungkasnya. (nov/wib)

Editor : Karen Wibi
#nganjuk #peninggalan purbakala #fosil #sejarah