MUSIM penghujan di Kabupaten Nganjuk rasanya tidak mengurangi kebahagiaan bagi penjual nasi pecel. Karena meski terus diguyur hujan hingga malam, makanan khas Nganjuk itu tetap dicari.
Salah satunya Bekti, penjual pecel yang akrab disapa Mami Telo. Perempuan kelahiran 1969 ini sudah berjualan di kawasan Ahmad Yani sejak tahun 2003. Dia dikenal sebagai salah satu pelopor pecel malam di kawasan tersebut. “Dulu cabangnya dua, setelah trotoar diperbaiki jadi bisa buka tiga cabang. Anak saya sendiri yang buka,” ujarnya sambil melayani pelanggan.
Mami Telo berjualan mulai pukul 18.00 WIB hingga pukul 03.00 WIB. Dalam sehari, dia bisa menghabiskan ratusan porsi pecel, bahkan ribuan saat kondisi ramai. “Kalau ramai bisa sampai seribu porsi, kalau sepi ya sekitar lima ratus,” ujarnya.
Saat memasuki musim penghujan, dia mengaku pendapatannya menurun. Namun, ia pun tak pernah mengeluh. “Yang penting bisa buat belanja aja sudah bersyukur,” tambahnya.
Saat ramai, dia bisa menghabiskan nasi sampai 25 kilogram. Tapi kalau musim hujan seperti sekarang bawa 10 kilo. “Nanti kalau habis baru masak lagi,” tuturnya sambil tersenyum.
Meski curah hujan tinggi, omzetnya tak sampai turun drastis. Justru, pesanan bungkus semakin banyak karena pembeli memilih membawa pulang makanan ketimbang makan di trotoar. “Kalau hujan ya banyak yang bungkus, kalau nggak hujan banyak yang makan di sini di trotoar,” ujarnya.
Warung Pecel Mami Telo tak hanya jadi favorit warga lokal. Banyak pelanggan dari luar kota, seperti Malang dan Jombang, sengaja datang ke Nganjuk hanya untuk menikmati pecel buatannya. “Sampai luar kota banyak yang datang. Dari Malang, Jombang, itu ke sini cuma buat makan aja,” tutunya.
Menurutnya, kunci bertahan di musim hujan adalah menjaga rasa dan pelayanan. Meski hujan deras mengguyur, Mami Telo tetap membuka lapak dengan tenda sederhana agar pelanggan tetap nyaman. “Namanya usaha di luar ya harus siap cuaca apa pun. Yang penting tetap buka, tetap semangat,” pungkasnya. (nov/wib)
Editor : Karen Wibi