NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Ibu hamil di Kabupaten Nganjuk wajib waspada. Karena Angka Kematian Ibu (AKI) hamil di Kota Angin tahun ini tidak zero atau nol. “Ada 11 ibu hamil yang meninggal dunia Januari-Oktober 2025,” ujar Kepala Dinas Kesehatan dr Tien Farida Yani melalui Kabid Kesehatan Masyarakat I Ketut Wijadi kemarin. Jumlah AKI yang meninggal dunia ini berpotensi bertambah. Karena ibu hamil risiko tinggi pada Oktober 2025 hingga saat ini lebih dari 100 orang.
Tercatat ada 101 ibu hamil risti 4T (Terlalu Muda, Terlalu Tua, Terlalu Dekat, dan Terlalu Banyak). Angka itu menjadi perhatian serius karena berpotensi meningkatkan risiko komplikasi persalinan jika tidak ditangani optimal.
Data Dinkes menunjukkan Kecamatan Tanjunganom menjadi wilayah penyumbang kasus terbanyak, yakni 17 ibu hamil risti K4. Sementara Kecamatan Ngluyu merupakan yang paling sedikit. “Jumlah ibu hamil di Ngluyu memang paling sedikit,” ujar Ikrom-panggilan akrab I Ketut Wijadi.
Menurut dia, tingginya kasus di Tanjunganom tidak berdiri sendiri. Selain jumlah penduduk yang besar, faktor ketersediaan tenaga kesehatan juga sangat berpengaruh. “Satu wilayah yang besar itu hanya ada satu bidan. Proporsinya tidak memenuhi. Bidan sudah berusaha maksimal, tapi belum mampu mengover semua wilayah karena luas dan jumlah penduduknya banyak,” paparnya.
Kondisi itu berdampak langsung pada efektivitas pendampingan selama masa kehamilan. Minimnya pemantauan membuat sebagian ibu hamil tidak menjalani pemeriksaan sesuai standar minimal.
“Seorang ibu hamil harus diperiksa minimal enam kali. Ketika tidak ada kesadaran dari ibunya atau pendampingannya kurang, ya akhirnya tidak sampai enam kali,” jelasnya.
Padahal, dalam pemeriksaan kehamilan 4T sudah termasuk pemeriksaan USG. Dinkes memastikan setiap kecamatan di Nganjuk telah memiliki fasilitas USG. Namun akses layanan saja tidak cukup. Kesadaran dan kondisi sosial ekonomi warga tetap berperan penting. “Ibu hamil harus mau memeriksakan diri secara rutin,” ujarnya. (nov/tyo)
Editor : Karen Wibi