Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Terjang Jalan Berlumpur Enam Kilometer di Tengah Hutan 

Karen Wibi • Minggu, 23 November 2025 | 22:05 WIB

TERJANG HUTAN DAN LUMPUR: Siswa SDN 3 Perning berjalan tanpa alas kaki melewati jalan berlumpur di tengah hutan saat berangkat dan pulang sekolah.
TERJANG HUTAN DAN LUMPUR: Siswa SDN 3 Perning berjalan tanpa alas kaki melewati jalan berlumpur di tengah hutan saat berangkat dan pulang sekolah.

Melihat Perjuangan Siswa SDN 3 Perning saat Musim Hujan

Perjuangan enam siswa dari SDN Perning 3 di Kecamatan Jatikalen patut diacungi jempol. Setiap hari, mereka harus melalui hutan sejauh 6 kilometer (km) untuk pulang-pergi ke sekolah. Bahkan agar tidak telat, mereka wajib bangun mulai pukul 04.00 WIB.

“Waktunya masuk kelas…ayo semua masuk…,” teriak seorang guru di SDN Perning 3 yang ada di Kecamatan Jatikalen. Teriakan itu direspons oleh puluhan siswa yang  sedari tadi berada di area sekolah. Dengan bergegas mereka langsung masuk ke ruang kelas.

Namun ada pemandangan tidak biasa. Dari area hutan di timur sekolah, terlihat enam siswa yang sedang berlari tergopoh-gopoh. Mereka adalah Sifa Deviana; Erli Suhana; Rizky Putra Pratama; Zaky Almair Zamil; Muhammad Rizky Maulana; dan Rendy.

NYEKER: Siswa SDN 3 Perning melewati jalan berlumpur saat pulang sekolah.
NYEKER: Siswa SDN 3 Perning melewati jalan berlumpur saat pulang sekolah.

Keenam anak itu mengenakan seragam sekolah. Namun ada yang sedikit berbeda. Mereka tidak memakai sepatu. Nyeker. Kaki mereka penuh dengan lumpur. Sesaat sebelum masuk ruang kelas, mereka membilas kaki terlebih dulu. Setelah kering, mereka baru mengenakan sepatu yang sebelumnya sudah disimpan di ruang penjaga sekolah. “Saya berangkat dan pulang sekolah selalu seperti ini. Jalannya lewat hutan,” terang Rizky kepada wartawan koran ini.

Rizky menceritakan, di tempat tinggalnya di Dusun Tegalabe, Desa Pule, Kecamatan Jatikalen tidak ada sekolahan. Sekolah terdekat terletak di Dusun Sumbergondang, Desa Perning, Kecamatan Jatikalen. Meski dianggap dekat, jarak antara kedua tempat itu sekitar 3 kilometer.

Bagi sebagian orang, perjalanan 3 kilometer (km) bukanlah perkara sulit. Terlebih jika menggunakan sepeda motor, jarak 3 kilometer bisa ditempuh dengan waktu lima menit saja. Namun hal itu tidak pernah dirasakan oleh Rizky dkk. Karena setiap harinya mereka harus berjalan kaki.

SEMANGAT: Siswa SDN 3 Perning bermain saat jam istirahat.
SEMANGAT: Siswa SDN 3 Perning bermain saat jam istirahat.

Medan yang ditempuh juga tidak mudah. Mereka berenam tidak melalui jalan umum. Melainkan melalui hutan milik Perhutani. Tidak ada penanda jalan di dalam hutan. Satu-satunya cara agar tidak tersesat hanya dengan melalui jalan yang sebelumnya pernah dilalui orang. Tandanya adalah jalan tersebut berlumpur. Terlebih ketika di musim penghujan. “Untungnya tidak pernah tersesat,” tambahnya.

Jalan yang berlumpur itu juga menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi keenam siswa itu. Karena mau tak mau mereka harus nyeker. Akibatnya, perjalanan harus dilalui dengan waktu yang lebih lama.

Namun kesulitan yang dialami oleh mereka tidak berhenti begitu saja. Karena harus nyeker, kaki mereka sering terluka. Tergores batu? Tertancap kayu? Digigit serangga? Semuanya sudah pernah dialami oleh keenam siswa tersebut. “Satu kali perjalanan sekitar satu jam. Kalau bolak-balik ya dua jam,” imbuhnya.

Hal itu tidak membuat Rizky dkk menyerah. Setiap harinya mereka selalu masuk sekolah tepat waktu. Menurut Rizky, kunci agar tidak terlambat adalah dengan bangun lebih pagi. Setiap harinya dia bersama lima temannya itu rutin bangun setiap pukup 04.00 WIB. Setelah persiapan, keenam anak itu akan berangkat ke sekolah sekitar pukul 05.30 WIB.

Sementara itu, Kepala SDN Perning 3 Suryanto mengatakan, dia sangat kagum dengan semangat keenam anak didiknya itu. Karena setiap hari mereka harus melalui hutan untuk bisa bersekolah. “Keenam anak itu jadi contoh yang baik di sekolah. Selain semangat, mereka juga berprestasi di bidang olahraga” ujarnya.

Lebih lanjut, menurut Suryanto, dirinya sering merasa kasihan dengan keenam anak itu. Terlebih ketika musim penghujan. Karena dipastikan mereka akan kesulitan selama perjalanan ke sekolah. “Kalau belum waktunya pulang, tapi sudah mendung, mereka saya izinkan pulang lebih awal. Kasihan jika harus hujan-hujanan di tengah hutan,” ujarnya. (wib/tyo)

Editor : Miko
#tengah hutan #Kabupaten Nganjuk #SDN 3 Perning #musim hujan #perjuangan siswa