Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Ribuan Balita Alami Stunting Tersebar di 20 Kecamatan

Novanda Nirwana • Minggu, 23 November 2025 | 22:26 WIB

WUJUDKAN BALITA SEHAT: Bupati Marhaen menggendong bayi. Stunting masih menjadi persoalan dI Kabupaten Nganjuk.
WUJUDKAN BALITA SEHAT: Bupati Marhaen menggendong bayi. Stunting masih menjadi persoalan dI Kabupaten Nganjuk.

Kondisi Kesehatan Balita Kota Angin saat Perekonomian Tak Baik-baik Saja

Angka stunting di Kabupaten Nganjuk membuat was-was. Jumlahnya terus meningkat. Di Oktober, jumlah anak stunting di Kota Angin mencapai 3.394 anak. Peningkatan angka stunting itu diduga terjadi akibat adanya efisiensi anggaran.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk terus berkomitmen untuk menurunkan angka stunting. Sayangnya, di bulan Oktober, jumlah bayi yang mengalami stunting malah meningkat. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Nganjuk mencatata, di Oktober, ada 3.394 anak yang mengalami stunting.

Jumlah tersebut naik dibanding September. Karena di September jumlah anak yang mengalami stunting hanya 3.329 anak.  Kecamatan Tanjunganom menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 573 balita stunting. 

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kabid Kesmas) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Nganjuk, I Ketut Wijadi menjelaskan tingginya angka tersebut berkaitan dengan kondisi wilayah. “Yang membuat banyak itu karena luas wilayah dan jumlah penduduk Tanjunganom juga besar. Itu yang membuat angka stunting cukup tinggi,” ujarnya.

Sebaliknya, Kecamatan Pace menjadi wilayah dengan angka stunting terendah, hanya 33 kasus. Menurutnya, rendahnya kasus di Pace tak lepas dari inovasi yang dijalankan di wilayah tersebut. “Pace bisa rendah karena salah satunya inovasi yang dilakukan oleh Kecamatan Pace,” jelasnya.

Ikrom menambahkan bahwa intervensi spesifik memang menjadi kewenangan dinkes, namun intervensi sensitif melibatkan banyak dinas lain. Intervensi spesifik sifatnya khusus, ditujukan untuk anak-anak yang berisiko stunting maupun gizi buruk.  “Tapi ini bukan hanya tugas dinkes. Ada OPD lainnya. Mulai dari Dinas Pendidikan, Ketahanan Pangan, PU, Perkim, dan lainnya,” terangnya.

Lalu apa penyebab meningkatnya stunting di Kota Angin? Menanggapi pertanyaan itu, Ikrom mengatakan keterbatasan anggaran menjadi salah satu penyebab intervensi perlu diprioritaskan secara ketat. “Berhubung dananya tidak terlalu besar, kami harus selektif. Keterbatasan anggaran membuat kami memprioritaskan mana yang harus ditangani lebih dulu,” tambahnya.

Selain upaya pemerintah, para kader PKK di tiap desa juga menjalankan program masing-masing untuk menekan angka stunting. Puskesmas pun diminta terus mendorong inovasi dalam layanan. “Kami mendorong puskesmas untuk terus berinovasi,” katanya.

Dia menegaskan bahwa penurunan stunting bukan hanya soal intervensi kesehatan, tetapi juga kerja keras seluruh pemangku kepentingan. “Dari aspek stakeholder terkait, perlu kerja keras bersama. Stunting ini tidak bisa diselesaikan satu dinas saja,” pungkasnya. (nov/wib)

Editor : Miko
#stunting anak #balita #nganjuk #Ribuan #Bupati Marhaen Djumadi #KOTA ANGIN