Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Makan Ulat karena Warga Percaya Banyak Manfaat

Karen Wibi • Senin, 8 Desember 2025 | 22:18 WIB

fakta menarik ulat jati
fakta menarik ulat jati

Melihat Makanan Ekstrem Kota Angin di Musim Penghujan  

Warga di Dusun Kepuhtelu, Desa Balongrejo, Kecamatan Bagor memiliki tradisi unik setiap memasuki musim penghujan, Mereka akan beramai-ramai masuk ke perkebunan jati. Tujuannya satu, untuk mencari ulat. Nantinya ulat yang dipercaya membawa banyak khasiat itu akan dimasak dan dimakan.

KABUPATEN Nganjuk mulai memasuki musim hujan. Di Dusun Kepuhtelu, Desa Balongrejo, Bagor, musim hujan tiba di pertengahan bulan November. Tandanya adalah hujan yang terus-terusan tiba sejak siang hingga malam hari.

Namun bukan hanya itu saja tanda jika Dusun Kepuhtelu sudah memasuki musim hujan. Ada satu tanda lainnya. Yaitu banyak ulat jati yang bergelantungan di antara pohon jati. Jumlahnya tidak hanya puluhan, melainkan ratusan bahkan ribuan! “Ulat jati sudah mulai keluar dari akhir November kemarin,” ujar Kamisan, 56, salah satu warga setempat.

Warga setempat tidak takut dengan pemandangan itu. Sebaliknya, mereka merasa senang. Ya, senang. Karena artinya mereka akan segera panen enthung jati. Lalu apa itu enthung? Menanggapi pertanyaan itu, Kamisan menjelaskan enthung adalah kepompong dari ulat jati. Sesuai siklus hidupnya, enthung jati akan menjadi ngengat ketika sudah cukup umur. Sebelum menjadi ngengat, mereka menjadi kepompong selama beberapa hari.

Saat musim penghujan tiba, ulat-ulat jati itu akan turun ke tanah. Caranya adalah dengan mem­buat benang halus. Ulat yang berada di atas pohon akan turun dengan bergelan­tungan menggu­nakan benang halus. Setelah sampai di tanah, mereka akan bersembunyi di antara daun kering. Di sana ulat akan menjadi kepompong hingga ngengat.

Saat jadi kepompong atau enthung, warga akan mencarinya. Caranya adalah dengan membuka satu per satu daun kering di tanah. Hingga mereka berhasil menemukan enthung. “Biasanya cari enthung dari pagi hingga sore,” tambahnya.

Enthung-enthung itu akan dikumpulkan. Setelah itu enthung akan dimasak atau dijual. Dalam satu harinya, warga bisa mengumpulkan 1 higga 2 kilogram (kg) enthung. Sedangkan, enthung dapat dijual Rp 10 ribu untuk satu gelas plastik.

Pembelinya tidak hanya warga sekitar. Karena saking terkenalnya, pembeli bisa berasal dari banyak daerah di luar Nganjuk. Mulai dari Kabupaten Kediri hingga Bojonegoro. “Banyak yang rela dari luar kota cuman buat ngerasain enthung jati,” tandasnya. (wib/tyo)

 

Editor : Karen Wibi
#enthung jati #nganjuk