Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Ajak Siswa SDN 1 Jampes Disiplin sejak Dini

Novanda Nirwana • Selasa, 9 Desember 2025 | 18:28 WIB

PERINGATI HARI ANTIKORUPSI SEDUNIA: Siswa SDN 1 Jampes berkunjung di Pondok Pesantren Mangunsari, Desa Batembat, Kecamatan Pace kemarin. Mereka belajar tentang mencegah korupsi se
PERINGATI HARI ANTIKORUPSI SEDUNIA: Siswa SDN 1 Jampes berkunjung di Pondok Pesantren Mangunsari, Desa Batembat, Kecamatan Pace kemarin. Mereka belajar tentang mencegah korupsi se

Korupsi merupakan bahaya nyata bagi bangsa Indonesia. Untuk mendidik siswa agar tidak melakukan tindak pidana korupsi, siswa-siswi SDN 1 Jampes belajar mencegah korupsi sejak dini. Kemarin, mereka berkunjung ke Pondok Pesantren Mangunsari, Desa Batembat, Kecamatan Pace. Kegiatan ini digelar untuk mengisi waktu setelah ujian semester sekaligus membekali anak-anak dengan nilai kejujuran dan amanah sebelum memasuki masa libur sekolah.

Setibanya di pesantren, seluruh siswa kelas 1 hingga 6 mengikuti rangkaian kegiatan mulai salat berjamaah, ziarah makam para kiai pendiri, hingga sesi khusus penguatan karakter antikorupsi melalui pendekatan pendidikan pesantren.

Gathut Wirotomo mengatakan, kegiatan ini sengaja dirancang bertepatan dengan momentum antikorupsi agar nilai-nilai integritas dapat diserap sejak usia dini. “Harapan kami kegiatan ini dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, serta menanamkan kejujuran lewat cara belajar ala pesantren. Anak-anak belajar menghindari perilaku korupsi sejak dini melalui hal-hal kecil,” jelasnya.

Pihaknya berharap, kegiatan ini dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, serta menanamkan nilai kejujuran melalui cara belajar ala pondok pesantren. Selain itu, anak-anak belajar bagaimana menghindari perilaku korupsi sejak dini dimulai dari hal-hal kecil.

Sementara itu, Pengasuh Ponpes Mangunsari Gus Muhammad Atiq memaparkan, pendidikan tentang antikorupsi sebenarnya telah lama diajarkan di pesantren melalui disiplin akhlak dan pembiasaan ibadah.  “Di pesantren, amal dimulai dari niat. Dari sini santri diarahkan untuk menjunjung kejujuran sebagai ibadah, menjaga amanah, dan memahami bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan. Etika tumbuh dari dalam diri, bukan karena diawasi,” ujarnya.

Menurut Gus Atiq, pembiasaan disiplin menjadi pondasi utama pendidikan  dan benteng untuk mencegah korupsi. Jadwal harian pesantren yang ketat, mulai bangun subuh, salat berjamaah, mengaji, hingga kerja bakti, membentuk karakter taat aturan, menghargai waktu, dan bertanggung jawab. “Kedisiplinan waktu itu akar dari sikap antikorupsi,” imbuhnya.

Nilai antikorupsi juga ditanamkan melalui keteladanan para kyai dan ustadz yang hidup sederhana, transparan dalam pengelolaan dana pesantren, serta menjaga amanah dalam hal-hal kecil. “Santri belajar bukan hanya dari ceramah, tapi dari apa yang mereka lihat setiap hari,” tegas Gus Atiq.

Selain itu, kultur kebersamaan juga membentuk karakter antikorupsi. Kegiatan gotong royong, piket kebersihan, hingga memasak bersama melatih santri memahami dampak tindakan individu terhadap kelompok. “Jika satu orang curang, semua kena dampaknya. Ini membuat anak-anak sadar pentingnya kejujuran,” katanya.

Gus Atiq menjelaskan pesantren memiliki sistem sanksi mendidik tanpa kekerasan, misalnya membersihkan kamar, menulis ulang pelajaran, atau meminta maaf terbuka. “Tujuannya bukan menghukum, tetapi menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab,” ujarnya.

Santri juga diberi amanah kecil seperti mengelola kebersihan kamar atau menjaga inventaris pesantren. Tugas-tugas ini melatih mereka bertanggung jawab dan jujur dalam hal sederhana sebelum memegang amanah lebih besar. (nov/tyo)

Editor : Karen Wibi
#disiplin #hari anti korupsi #Anti Korupsi