Fenomena Trading di Kabupaten Nganjuk: Makan, BAB, Sekolah, hingga Tidur Pantengi HP
Karen Wibi• Senin, 15 Desember 2025 | 17:07 WIB
ilustrasi
Trading Serang Pelajar Kota Angin
Ada fenomena baru di Kabupaten Nganjuk saat efisiensi anggaran. Pelajar di Kabupaten Nganjuk tidak hanya bermain games online dan membuat konten. Namun, mereka sudah mulai bermain trading. Ironisnya, mereka jadi tidak fokus belajar.
ilustrasi
“Pantau grafik terus,” ujar Ren, 17, salah satu siswa SMK di Kabupaten Nganjuk kemarin. Hal ini karena market atau pasar berubah setiap detik. Bisa turun atau naik. Sehingga, pemuda kelas XII ini harus memantau pergerakan tersebut. Sebab, dia menentukan untuk buy atau membeli dan sell atau menjual dengan melakukan analisa terlebih dulu. Prediksi itu harus tepat. Jika salah maka uang yang dipasang akan lenyap dalam hitungan detik.“Kapan harus close itu harus tepat. Jangan terlambat apalagi menjadi tamak,” ingat Ren. Sebagai trader di usia remaja, sangat mengganggu aktivitasnya sehari-hari. Mulai bangun tidur, dia sudah mencari smartphone. Melihat grafik. Naik atau turun.
ilustrasi
Saat di kamar mandi untuk buang air besar (BAB) dan mandi, tangan Ren juga tidak lepas dari smartphone. Dia pantau grafik. Kemudian, saat sarapan, tangannya tidak lepas dari smartphone.
Di sekolah, dia juga terus memantau grafik tradingnya. Kemudian, pulang sekolah dengan mengendarai motor, saat di traffic light, dia juga lihat grafik di smartphone. Nongkrong dengan teman di warung, juga mantau grafik. Hingga, tertidur, smartphone tetap nyala untuk memantau grafik. “Market yang saya ikut trading itu buka mulai pukul 06.00 WIB hingga pukul 05.00 WIB. Hanya tutup satu jam saja,” ujar Ren.
ilustrasi
Bermain trading ini baru empat bulan dilakukan Ren. Namun, dia mengaku sudah mulai kecanduan. Setiap hari, dia trading. “Awalnya belajar dari Youtube dan membeli buku-buku trading,” ungkapnya.
Lalu bagaimana dengan sekolah? Ren mengatakan, sudah tidak peduli. Dia lebih tertarik mencari peruntungan dengan bermain trading di smartphone. Walaupun risiko rugi jutaan rupiah mengintai. “Saya pernah rugi Rp 5 juta dalam semalam,” ujarnya.
Namun demikian, Ren mengaku juga pernah merasakan untung. Dalam sehari, dia bisa untung Rp 2 juta. Sehingga, adrenalinnya untuk trading terus naik. “Trading itu seperti candu,” ujarnya. (wib/tyo)