Pilih Tinggalkan Zona Nyaman untuk Raih Sukses di Luar Pulau
Novanda Nirwana• Senin, 15 Desember 2025 | 17:08 WIB
HANYA SATU KELUARGA: Adam bersama anak dan istri berpamitan ke Bupati Marhaen Djumadi dan Kepala Disnaker Itsna Shofiani untuk bertransmigrasi ke Sulawesi Barat.
Melihat Cerita Warga Nganjuk yang Bertransmigrasi ke Sulawesi Barat
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk memiliki program transmigrasi di tahun ini. Total ada satu warga asal Desa Sonobekel, Kecamatan Tanjunganom yang memilih untuk berangkat ke Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Dia adalah Adam Gumelar Sucipto.
Namanya adalah Adam Gumelar Sucipto. Pria berusia 31 tahun itu berasal dari Desa Sonobekel, Kecamatan Tanjunganom. Pada 17 Desember mendatang, dia bersama anggota keluarganya akan berangkat ke Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.
Keberangkatannya ke Polewali Mandar bukan untuk berwisata. Melainkan untuk mencari peruntungan baru. Ya, Adam rela berangkat ke sana untuk mencari pekerjaan. Dia menjadi satu-satunya warga Kabupaten Nganjuk yang melakukan transmigrasi dari program milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk.
Bagi Adam keputusan menjadi transmigran bukanlah langkah yang terjadi dalam semalam. Dia pergi bukan sendirian, melainkan membawa serta istri dan anaknya. Di balik keputusan besar itu, tersimpan cerita panjang tentang keraguan keluarga, persiapan mental, hingga keinginan keluar dari zona nyaman.
Adam mendapat bantuan dari Pemkab Nganjuk.
Adam mengakui bahwa bagian paling sulit sebelum memastikan keberangkatan adalah pembicaraan dengan keluarga, khususnya sang ibu. “Pertimbangan paling berat sebelum berangkat pastinya keluarga. Ibu pada waktu mau berangkat itu masih ada keraguan karena teman-teman saya semua di sini, di sana tidak ada teman,” ujar Adam.
Namun perlahan dia membangun keyakinan bahwa masa depan keluarganya ada pada keberanian mengambil langkah baru. Dia meninggalkan pekerjaannya di Kecamatan Kertosono untuk membuka langkah baru di tanah Sulawesi, tempat yang belum pernah dia kunjungi sama sekali. “Menurut saya ini sudah waktunya mencari kesempatan baru, keluar dari zona nyaman,” ungkap lulusan D4 Teknik Elektro ITS Surabaya itu.
Program transmigrasi yang dia ikuti bukan lagi program yang identik dengan warga kurang mampu. Menurut Adam, sistem transmigrasi kini sudah berubah. “Transmigrasi sudah bertransformasi jadi nggak hanya dari yang kurang. Ada transmigrasi patriot untuk yang pendidikan S2 dan membangun daerah. Saya yang reguler, pembangunan daerah,” jelasnya.
Sebelum berangkat, Adam mengikuti pelatihan di Bandung selama dua bulan. Di sana dia berkumpul dengan calon transmigran lain dari berbagai daerah. Sesi tersebut menjadi ruang berbagi pengalama hingga gambaran tentang kehidupan di daerah tujuan.“Jadi sangat membantu. Cerita-cerita banyak di sana, jadi sudah kami dapat sebelumnya,” katanya.
Membawa serta istri dan anaknya menjadi keputusan bulat. Baginya, dukungan keluarga inti adalah kekuatan terbesar untuk memulai hidup baru. Sementara ibunya akan menyusul setelah tempat tinggal mereka di Polewali Mandar benar-benar siap.“Rencana ibu juga nyusul, cuma nanti nunggu settle,” ujarnya.
Meski siap menghadapi tantangan, Adam tetap membawa pelajaran hidup yang ia pelajari di kampung halamannya. “Nilai dan pelajaran hidup yang saya bawa ke daerah transmigran ya sopan santun, tolong-menolong,” pungkasnya. (nov/wib)