Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Adam Rela Mengantre untuk Ikut Transmigrasi Hingga Dua Tahun

Novanda Nirwana • Senin, 15 Desember 2025 | 17:09 WIB

Adam dan Istri beserta sang buah hati foto bersama Bupati Marhaen Djumadi.
Adam dan Istri beserta sang buah hati foto bersama Bupati Marhaen Djumadi.

KEBERANGKATAN Adam Gumelar Sucipto ke Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, bukan proses yang terjadi seketika. Menurut Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Nganjuk, Adam sudah mendaftar sejak dua tahun lalu. Lamanya waktu tunggu bukan tanpa alasan. Kuota transmigrasi untuk Nganjuk sejak 2022 hanya satu kepala keluarga (KK) per tahun.

Kepala Seksi (Kasi) Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi Disnaker Nganjuk, Titik Purwani menjelaskan bahwa Adam merupakan peserta program komponen cadangan, kategori yang baru dibuka tahun ini untuk calon transmigran berusia di bawah 35 tahun. “Memang menunggunya agak lama karena kuota kami sejak 2022 terbatas satu KK saja,” ujarnya.

Di Nganjuk, proses seleksi dilakukan secara berurutan berdasarkan daftar antrean. Selain itu, sebelumnya juga terdapat proses seleksi. “Kami kasih urutan. Jadi urutan yang pertama kami hubungi. Kalau misal nggak sanggup, ya turun ke bawahnya,” jelasnya.

Saat ini, syarat utama peserta transmigrasi adalah sudah berkeluarga dan berusia di bawah 50 tahun. Pendidikan tidak dibatasi. Namun konsep transmigrasi di Indonesia kini tengah mengalami transformasi. Program tidak lagi identik dengan masyarakat berekonomi rendah. “Transmigrasi sekarang itu bukan hanya untuk orang yang tidak mampu saja. Apalagi yang tahun depan ada trans patriot itu. Memang belum launching, tapi sudah digagas, itu yang mau diberangkatkan anak-anak lulusan sarjana,” terangnya.

Dalam proses pemberangkatan, Disnaker memiliki peran untuk melakukan penjajakan lokasi dan pendampingan calon transmigran. Namun anggaran monitoring kini mengalami pemangkasan.

“Setelah diberangkatkan itu monitoring sebetulnya ada. Tetapi berhubung ada efisiensi dana, monitoring dipangkas. Kalau tahun lalu masih ada monitoring,” jelasnya.

Tahun ini, Disnaker hanya melakukan pendampingan keberangkatan saja. Pendampingan dilakukan dengan memastikan calon transmigran tiba di tempat tujuan dan memperoleh hak-haknya, termasuk rumah. “Kami mengantar sampai lokasi, memastikan dia nanti di sana dapat rumah,” katanya.

Selain itu, sebelumnya Disnaker juga memberikan gambaran lengkap tentang kondisi lapangan agar calon transmigran benar-benar siap. “Kami sudah memberikan gambaran terlebih dahulu. Di sana itu seperti ini lo. Dipikir benar-benar. Kalau bisa, kami memberangkatkan itu jangan sampai mereka pulang dengan perasaan tidak kerasan,” tegasnya. (nov/wib)

Editor : Karen Wibi
#nganjuk #transmigrasi