Unik! Jemaat GKJW Aditoya Nganjuk Sulap Sampah Plastik Jadi Pohon Natal 12 Meter
Karen Wibi• Jumat, 26 Desember 2025 | 23:10 WIB
MERIAHKAN NATAL: Pohon Natal raksasa di Gereja Aditoya memikat jemaat saat Natal.
Cara Unik Jemaat GKJW Aditoya di 25 Desember 2025
Jemaat di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Aditoya di Desa Jatigreges, Kecamatan Pace memiliki cara unik untuk menyambut Natal. Mereka membuat pohon Natal setinggi 12 meter. Pohon Natal itu eksklusif karena tidak ada di pasaran.
KAREN WIBI-NGANJUK,JP Radar Nganjuk
ADA dusun unik di Kabupaten Nganjuk. Yaitu, Dusun Aditoya yang terletak di Desa Jatigreges, Kecamatan Pace. Keunikan dusun itu karena mayoritas warganya yang memeluk agama Kristen. Mayoritas mereka tergabung di dalam jemaat Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Aditoya.
Jemaat gereja tertua di Kabupaten Nganjuk itu selalu memiliki cara unik dalam merayakan hari raya keagamaan umat Kristiani. Entah itu saat Hari Raya Paskah atau Natal. Begitu juga yang dilakukan di Hari Raya Natal tahun ini. Jemaat di GKJW Aditoya membuat dua pohon Natal raksasa.
Tingginya mencapai 12 meter. “Jemaat gereja kami membuat dua pohon natal raksasa untuk memeringati natal,” ujar Pendeta GKJW Aditoya Wawuk Kristian Wijaya.
Bukan hanya tingginya yang membuat pohon natal itu unik. Melainkan karena bahan dasar pembuatan pohon natal. Biasanya pohon Natal dibuat dengan bahan-bahan yang tidak murah. Dengan alibi untuk membuat pohon Natal terkesan mewah.
Namun, Wijaya bersama jemaat geraja lainnya ingin menghindari hal itu. Alih-alih menggunakan bahan yang mahal, pembuatan pohon natal itu malah menggunakan bahan yang murah. Ditambah bahan-bahan tersebut mudah ditemukan di sekitar Dusun Aditoya. Yaitu, pohon bambu dan sampah plastik.
Ya, dua pohon Natal di Dusun Aditoya dibuat dari pohon bambu dan sampah plastik. Kedua bahan itu dianggap dapat menekan biaya pembuatan dan mengandung filosofi yang cocok. “Dusun Aditoya memiliki banyak sekali pohon bambu. Pohon-pohon itu lalu kami kumpulkan untuk dijadikan pohon natal,” tambahnya.
Proses pembuatan pohon Natal itu memerlukan waktu sekitar tiga minggu. Lamanya proses pembuatan pohon natal itu karena banyak jemaat yang repot bekerja di pagi dan siang hari. Baru di sore harinya mereka bisa mengerjakan pohon Natal.
Beruntung pohon Natal dapat dirampungkan sebelum 25 Desember. Kini, dua pohon Natal itu diletakkan di dua tempat berbeda. Pohon pertama yang terbuat dari bambu diletakkan di batas timur Dusun Aditoya. Sedangkan pohon kedua yang terbuat dari sampah plastik diletakkan di area GKJW Aditoya.
Dua pohon Natal itu terlihat lebih spesial di malam hari. Alasannya karena kedua pohon natal itu dipasangi pernak-pernik lampu natal. Alhasil, ketika gelap, kedua pohon natal itu menyala. Menerangi dusun yang berada di ujung selatan Kabupaten Nganjuk tersebut. “Pohon Natal yang terang ini menjadi pengingat agar semua umat Kristiani bisa menjadi terang di lingkungan sekitar,” tandasnya. (tyo)