Waduh! Sebanyak 313 Orang di Nganjuk Kena HIV/AIDS Selama Tahun 2025
Novanda Nirwana• Selasa, 30 Desember 2025 | 02:33 WIB
Penyebaran penyakit HIV/AIDS di Kabupaten Nganjuk semakin mengkhawatirkan. Bagaimana tidak, di sepanjang tahun 2025, total ada 313 penderita baru HIV/AIDS.
Penyakit Menular Seksual Serang Warga Kabupaten Nganjuk
Penyebaran penyakit HIV/AIDS di Kabupaten Nganjuk semakin mengkhawatirkan. Bagaimana tidak, di sepanjang tahun 2025, total ada 313 penderita baru HIV/AIDS. Kini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk terus berusaha untuk menekan penyebaran penyakit mematikan tersebut.
KABUPATEN Nganjuk masih belum bisa lepas dari bayang-bayang penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Karena setiap tahunnya pasti ada penambahan jumlah temuan kasus baru.
Hingga November 2025, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Nganjuk mencatat ada 313 kasus baru HIV/AIDS. Dari jumlah tersebut, mayoritas penderitanya berada di usia produktif. Sedangkan faktor penularan terbanyak masih didominasi hubungan seksual berisiko.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk dr. Tien Farida Yani melalui Penanggung Jawab Program HIV/AIDS Nikke Nuriaty menyampaikan, dari total 313 temuan baru tersebut, 167 penderita berjenis kelamin laki-laki dan 146 perempuan. “Jumlah temuan tahun ini sedikit menurun dibandingkan tahun lalu yang mencapai 328 orang,” kata Nikke.
Berdasarkan pemetaan wilayah, Kecamatan Tanjunganom tercatat sebagai daerah dengan jumlah kasus terbanyak. Sementara untuk lokasi penemuan kasus, paling banyak ditemukan saat pemeriksaan dan layanan kesehatan di RSUD Nganjuk.
Dari sisi usia, kasus HIV/AIDS di Kabupaten Nganjuk paling banyak menyerang usia produktif antara 20 hingga 60 tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa kelompok usia aktif secara sosial dan ekonomi masih menjadi kelompok paling rentan terhadap penularan.
Adapun faktor risiko penularan yang dominan masih melalui hubungan seksual, termasuk di antaranya kelompok penyuka sesama jenis. Dinkes Nganjuk menyebutnya dengan istilah lelaki seks dengan lelaki (LSL). “Hubungan seksual masih menjadi faktor risiko paling besar dalam penularan HIV/AIDS di Nganjuk,” jelas Nikke.
Selain temuan kasus baru, Dinas Kesehatan juga mencatat adanya 34 kematian akibat HIV/AIDS sepanjang tahun ini. Seluruh kasus kematian tersebut disertai penyakit penyerta, dengan tuberkulosis (TBC) menjadi penyakit penyerta paling banyak ditemukan. (nov/wib)