NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Kondisi perekonomian yang lesu di 2025 berdampak pada tingginya perceraian di Nganjuk. Pada tahun lalu, tercatat 1.715 istri memutuskan menggugat cerai. “Penyebab paling banyak mereka gugat cerai karena masalah ekonomi,” ujar Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Kabupaten Nganjuk Dian Purnaningrum.
Meski menyandang status janda tetapi ribuan perempuan tersebut tidak keberatan. Mereka justru merasa nyaman menjadi single parent. Kemudian, bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Selain masalah ekonomi, Dian mengatakan, istri mengajukan gugat cerai karena merasa ditelantarkan. Suaminya tidak diketahui keberadaannya.
Dia tidak memberikan nafkah lahir dan batin. Dihubungi juga tidak bisa. Karena itu, istri tersebut memilih untuk bercerai.
Sedangkan, faktor ketiga adalah perselingkuhan atau perzinahan. Istri mengajukan gugat cerai karena suami melakukan perselingkuhan. Kehidupan rumah tangga mereka menjadi tidak harmonis. Ujung-ujungnya, perceraian menjadi pilihan terakhir.
Selain ribuan istri yang mengajukan gugat cerai, Dian mengatakan, berdasarkan data di PA Nganjuk, ada ratusan suami yang mengajukan talak cerai. “Total ada 491 suami yang mengajukan talak cerai di 2025,” ujarnya.
Jumlah perceraian di 2025 ini meningkat drastis dibandingkan tahun 2024. Karena di 2024, perkara perceraian yang masuk ke PA Nganjuk sebanyak 2.666 kasus. Sedangkan, di 2025, ada 2.828 perkara yang masuk. “Untuk tahun 2025 perkara yang sudah diputus sebanyak 2.917 perkara. Itu termasuk perkara 2024 yang baru diputus di 2025,” terang Dian.
Sementara itu, SA, 30, warga Kecamatan Loceret mengatakan, dia mengajukan gugat cerai ke PA Nganjuk karena berbagai persoalan. “Suami saya selingkuh dan kami pisah ranjang selama dua tahun,” ujarnya.
Ibu satu anak ini mengatakan, meski sudah menikah 10 tahun tetapi dia tetap memilih bercerai. Hal ini karena hubungannya dengan suami tidak semakin baik. Justru, komunikasi semakin jarang. “Tidak bisa berkomunikasi. Dia juga tidak ngurusi saya dan anaknya,” ujarnya.
Perempuan yang menikah di usia 20 tahun ini mengatakan, bercerai adalah pilihan terbaik baginya. Dia berharap, bisa menata hidupnya. “Mumpung saya masih muda dan anak masih kecil,” ujarnya. (nov/tyo)
Editor : Karen Wibi