Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Jasa Suruhan di Kabupaten Nganjuk: Dari Menjadi Intel Swasta hingga Penagih Utang

Novanda Nirwana • Senin, 19 Januari 2026 | 18:35 WIB

jasa antar
jasa antar

Fenomena Jasa Suruhan yang Menjamur di Kota Angin  

Perkembangan ekonomi digital melahiran peluang usaha baru. Salah satunya adalah jasa suruhan. Jasa yang ditawarkan sangat bervariasi. Mulai dari antar-jemput, belanja, penagih utang, bahkan hingga menjadi detektif partikelir atua intel.

ADA sebuah usaha unik yang mulai menjamur beberapa tahun terakhir di Kabupaten Nganjuk. Namanya adalah Jasa Suruhan. Secara singkat, Jasa Suruhan adalah usaha yang bergerak di bidang jasa. Si pelanggan bisa memberikan perintah untuk dilakukan oleh si pemilik usaha. Mulai dari belanja, antar-jemput, hingga keperluan lainnya.

Usaha tersebut dirintis Rizki Efendi, 30, warga Desa Ganungkidul, Kecamatan Nganjuk. Awalnya, Rizki membuka jasa titip (jastip) barang pada 2023. Namun, konsep itu dinilainya terlalu terbatas karena hanya berfokus pada pengadaan barang. “Awalnya jastip saja. Tapi lama-lama saya lihat di TikTok banyak yang viral soal jasa suruhan. Dari situ saya kepikiran, kenapa tidak diperluas saja,” kata Rizki.

Pada 2024, Rizki mengubah konsep usahanya menjadi ‘Jasa Suruhan Nganjuk’. Layanan yang ditawarkan pun lebih fleksibel. Mulai dari membelikan makanan, mengambil barang, hingga antar-jemput ke berbagai lokasi.

Di awal merintis, Rizki hanya dibantu istrinya. Seiring mening­katnya jumlah pesanan, kini dia menggan­deng lima orang rekannya untuk membantu operasional harian. “Sekarang sudah ada lima orang yang bantu,” ujarnya.

Untuk penentuan tarif, Rizki tidak memasang patokan baku. Khusus layanan makanan, pengam­bilan barang, atau antar-jemput, tarif yang dikenakan Rp 3 ribu per kilometer. Sementara untuk jasa lain, harga ditentukan berdasarkan kesepakatan antara penyedia dan pelanggan. “Kalau jasa lain ya fleksibel, tergantung kesepakatan,” jelasnya.

Meski terlihat menjanjikan, usaha ini tidak lepas dari risiko. Rizki mengaku pernah menjadi korban order fiktif di awal menjalankan jasa suruhan. Saat itu, dia diminta membelikan barang di swalayan. Namun, setelah barang dibeli, pemesan menghilang.

“Sempat rugi sampai Rp 450 ribu. Dari situ jadi pelajaran supaya lebih hati-hati,” katanya.

Untuk pemasaran, Rizki mengandalkan media sosial, terutama TikTok. Video promosi yang diunggah rutin terbukti efektif menjaring pelanggan baru.  “Yang paling ramai ya dari TikTok. Sekali videonya ramai, order bisa masuk terus,” ujarnya sembari mengatakan pendapatannya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus menabung. (nov/wib)

Editor : Karen Wibi
#Jasa #intel #nganjuk #penagih utang